<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Belajar Menulis</title>
	<atom:link href="http://tb99.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tb99.wordpress.com</link>
	<description>membaca, diskusi, dan menulis untuk membentuk diri menjadi makhluk berbudi</description>
	<lastBuildDate>Sun, 16 Jan 2011 02:30:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='tb99.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Belajar Menulis</title>
		<link>http://tb99.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://tb99.wordpress.com/osd.xml" title="Belajar Menulis" />
	<atom:link rel='hub' href='http://tb99.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Bangkit dan Bergeraklah! (Refleksi Orang Muda Katolik)</title>
		<link>http://tb99.wordpress.com/2010/09/30/bangkit-dan-bergeraklah-refleksi-orang-muda-katolik/</link>
		<comments>http://tb99.wordpress.com/2010/09/30/bangkit-dan-bergeraklah-refleksi-orang-muda-katolik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Sep 2010 08:09:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thian Budiarsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tb99.wordpress.com/?p=136</guid>
		<description><![CDATA[Menilik Karakter Mahasiswa Katolik Masa Kini Dalam sebuah kesempatan rapat tim misa Wisma Drijarkara, pernah muncul celetukan menyangkut arti kebangkitan nasional. Waktu itu teman-teman mahasiswa yang tergabung dalam tim misa mencoba merumuskan tema perayaan ekaristi yang kebetulan dekat dengan momentum hari kebangkitan nasional. Celetukan yang sempat mengagetkan itu muncul ketika pertanyaan spontan mengenai arti kebangkitan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tb99.wordpress.com&amp;blog=10062924&amp;post=136&amp;subd=tb99&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Menilik Karakter Mahasiswa Katolik Masa Kini</em></strong></p>
<p>Dalam sebuah kesempatan rapat tim misa Wisma Drijarkara, pernah muncul celetukan menyangkut arti kebangkitan nasional. Waktu itu teman-teman mahasiswa yang tergabung dalam tim misa mencoba merumuskan tema perayaan ekaristi yang kebetulan dekat dengan momentum hari kebangkitan nasional. Celetukan yang sempat mengagetkan itu muncul ketika pertanyaan spontan mengenai arti kebangkitan nasional tidak dapat dijawab oleh teman-teman mahasiswa. Bahkan disebutkan pula bahwa peristiwa kebangkitan nasional yang setiap tanggal 20 Mei diperingati berlalu begitu saja. Teman-teman mahasiswa juga merasa tidak mempunyai roh dan ternyata tidak begitu paham esensi peringatan kebangkitan nasional. Ironis sekaligus memprihatinkan.</p>
<p>Berbicara tentang arti kebangkitan nasional bagi mahasiswa Katolik tidak bisa lepas dari persoalan mengenai siapa mahasiswa Katolik itu sendiri. Apa yang dialami teman-teman tim misa, menjadi sebuah potret kecil yang menggambarkan siapa mahasiswa Katolik masa kini pada umumnya. Sebagian ada yang sudah mulai kurang peduli terhadap apa yang terjadi di luar persoalan pribadi mereka sebagai seorang muda, tetapi bersyukur pula rupanya masih ada segelintir teman-teman mahasiswa Katolik yang mau ikut prihatin ketika persoalan di negara ini begitu sesak mendera kaum tertindas. Dua karakter kontras mahasiswa Katolik yang tersebut di atas dicoba untuk diperlawankan lagi agar lebih mudah ditelaah.</p>
<p>Dari pengamatan terbatas untuk melihat dan mencoba mengenal karakter mahasiswa Katolik di kampus, muncul dua karakter atau mungkin lebih tepat disebut kecenderungan yang  tercuat dari pribadi mahasiswa Katolik masa kini.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Pertama</em>, mahasiswa Katolik yang merasa sangat terpuaskan ketika mampu eksis dalam <em>peer group</em> mereka. Mau menjadi <em>follower</em> yang rela memuja idola, bahkan <em>make over</em> penampilan untuk sekedar “mirip” sang ‘Idol’. Mereka, mahasiswa Katolik yang demikian kalau boleh diistilahkan menjadi Generasi ”Idol” yang nyaman dalam situasi berikut ini:</p>
<ul>
<li>lebih suka <em>hang out</em> bareng teman-teman entah ke mall, tempat nongkrong, atau sekedar ’kongko-kongko’</li>
<li>mereka biasa punya <em>peer group</em> (dalam istilah Sosiologi bisa disebut <em>Klik</em> atau lebih ekstrem lagi <em>Geng</em>) dan sangat menghargai jalinan pertemanan</li>
<li>relatif loyal terhadap kelompok mereka (bersifat <em>groupies)</em></li>
<li>kuliah lebih dilihat sebagai kewajiban untuk menyenangkan orang tua, alhasil sering cabut, tidak mengerjakan tugas dengan optimal, prestasi belajar pas-pasan. Dorongan kuliah masih dominan timbul dari faktor eksternal (orang tua, peraturan, lingkungan)</li>
<li>yang menjadi buronan adalah semua yang berbau <em>have fun</em></li>
<li>keterlibatan dalam komunitas mahasiswa Katolik di kampus sekedar anggota saja. Mereka kurang berkontribusi dalam komunitas mahasiswa Katolik di kampus</li>
<li>terlihat di gereja untuk mengikuti misa (selain misa jarang muncul di gereja</li>
<li>cenderung tidak tertarik untuk tahu berbagai permasalahan nasional; indikasinya  kurang membaca koran, lebih suka membaca komik</li>
</ul>
<p><em>Kedua</em>, mahasiswa Katolik yang cenderung mencuatkan diri sebagai pribadi yang ”<em>altruist</em>”. <em>Altruist</em> dalam arti yang luasnya “suka mementingkan kepentingan orang lain”. Barangkali mereka cocok disebut Generasi “Cool”. Mereka yang masuk dalam kawanan orang muda itu teridentifikasi “<em>enjoy</em>” dengan hal-hal berikut:</p>
<ul>
<li>Kegiatan bersama teman-teman dalam pergaulan disikapi sebagai bagian kebutuhan sosial yang dipenuhi secara wajar</li>
<li> Tergabung dalam kelompok yang bisa menjadi wadah bagi ekspresi bakat dan minat mereka</li>
<li>Kuliah juga disadari sebagai tugas yang perlu dilaksanakan secara baik dan bertanggungjawab</li>
<li>Mereka tertarik untuk ikut terlibat dan berkontribusi dalam komunitas mahasiswa Katolik di kampus</li>
<li>Ada pula yang selain aktif dalam organisasi mahasiswa Katolik di kampus juga aktif dalam komunitas pemuda di gereja, atau mungkin satu di antaranya</li>
<li>Karena sudah akrab dengan diskusi dan terlatih memikirkan persoalan bersama dalam organisasi, isu-isu sosial kebangsaan juga menjadi suatu hal yang menarik untuk mereka pelajari</li>
</ul>
<p>Namun, meskipun mahasiswa Katolik yang teridentifikasi sebagai Generasi “Cool” cukup banyak terlibat dalam berbagai organisasi kemahasiswaan di kampus, rupanya ketertarikan mereka untuk berkecimpung dalam organisasi perpolitikan di kampus masih rendah. Mereka agaknya tidak tertarik untuk terlibat dalam organisasi politik mahasiswa “ekstra kampus”. Misal saja ketertarikan teman-teman mahasiswa Katolik FISIP Undip. Mereka lebih memilih bergabung dalam himpunan mahasiswa jurusan ketimbang menjadi kader organisasi ekstra sembari duduk dalam kepengurusan BEM atau Senat.</p>
<p><strong><em>Sejarah Inspirasi Kebangsaan Kaum Muda</em></strong></p>
<p>Ada banyak tokoh mahasiswa yang namanya sudah terukir dalam catatan sejarah. Perjuangan mereka terbukti sudah menciptakan perubahan bagi republik ini. Sebut saja Soe Hok Gie yang pada era 1966 begitu teguh pada prinsip berjuang lewat penanya. Atau Auwjong Peng Koen yang kemudian lebih dikenal PK. Ojong dengan perjuangannya menyuarakan persamaan hak bagi masyarakat Tiong Hoa. Pada 1954, PK Ojong bersama Siauw Giok Tjhan, Yap Thiam Hien, Go Gien Tjwan dan Oei Tjoe Tat tergabung dalam Baperki yang fokus memperjuangkan hak masyarakat Tiong Hoa di Indonesia.</p>
<p>Profesor Syafii Ma’arif melalui artikel berjudul “Dulu Tulus Kini Tidak”<em> </em>yang dimuat dalam majalah Basis edisi Ketulusan Mei-Juni 2000, menulis beberapa tokoh muda Katolik seperti IJ Kasimo, Herman Johannes, AM Tambunan, dan J Leimena bersama-sama tokoh Masyumi dan PSI mencoba melawan sistem politik otoritarian Soekarno pada era Demokrasi Terpimpin (1959-1965/66). Ditulis pula Natsir yang tokoh Masyumi dengan IJ Kasimo yang aktivis Partai Katolik membangun pondasi persahabatan yang tulus. Profesor Syafii Ma’Arif mengatakan persahatan itu terpupuk oleh IDEALISME &amp; INTEGRITAS PRIBADI. Mereka adalah MORALIS SEJATI, yang peka membaca tanda-tanda zaman realitas rahim bangsanya.</p>
<p>Kita juga pasti masih ingat detik-detik menjelang proklamasi kemerdekaan bangsa ini. Tanggal 16 Agustus tokoh-tokoh muda kita mengambil insiatif untuk mengamankan Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok. Padahal satu minggu sebelum proklamasi kemerdekaan, tanggal 9 Agustus 1945, Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta dan Dr. Radjiman Wediodiningrat singgah ke Taiping yang terletak di Semenanjung Malaya. Di Taiping mereka mengadakan pertemuan dengan para pemimpin gerakan kebangsaan Melayu untuk membicarakan upaya persiapan kemerdekaan. Dan mereka bersepakat untuk menyatakan kemerdekaan bangsa pada tanggal 22 Agustus 1945. Namun, atas desakan teman-teman muda waktu itu, akhirnya proklamasi kemerdekaan dinyatakan lebih awal dari kesepakatan sebelumnya pada tanggal 17 Agustus 1945.</p>
<p>Mereka, kaum muda serta mahasiswa pada zaman itu telah menorehkan sejarah perjuangan. Sumbangan mereka bagi negeri ini sangatlah besar. Yang terutama bagi mahasiswa masa kini adalah inspirasi dan nilai keteladanan yang mereka sumbangkan. Dalam kondisi yang serba menghimpit, dengan penuh semangat Soe Hok Gie, Auwjong Peng Koen, IJ Kasimo dan teman-teman era 45 berjuang membuat sebuah perubahan ke arah lebih baik. Kebangkitan nasional mewujud dalam setiap derap perjuangan mereka.</p>
<p>Mahasiswa zaman ini, sekurang-kurangnya diri saya pribadi, menjadi perlu berintrospeksi dan menata diri kembali. Berbagai tantangan memang seakan tak kuasa dibendung dan akan datang bertubi-tubi. Pemandangan yang terjadi saat ini saya baca sebagai akibat dari beberapa situasi:</p>
<ol>
<li>Mahasiswa Katolik masa 2000-an tidak mengalami revolusi kemerdekaan yang membakar semangat ‘heroic’. Pun euforia penumbangan rezim Orde Baru telah menipis aroma perjuangannya. Heroisme dan nyali perjuangan ala Soe Hok Gie atau IJ Kasimo menjadi jarang dipilih.</li>
<li>Terpaan media dalam berbagai bentuk komoditinya jeli menawarkan pola hidup hedonis, konsumeristik, dan serba instan. Keteguhan prinsip dan kesederhanaan hidup yang dicontohkan PK. Ojong semakin tidak diminati.</li>
<li>Biaya kuliah yang relatif mahal ditambah lagi kesempatan kerja yang terbatas mengakibatkan para mahasiswa masa ini lebih memilih mengabaikan pengembangan idealisme untuk terlibat mengambil peran dalam kondisi sekitar.</li>
<li>Kekuatan ekonomi neoliberal di era globalisasi menyebabkan mahasiswa masa ini cenderung mengintegrasikan dirinya tanpa memberi peluang untuk bersikap mengkritisi.</li>
</ol>
<p>Menjadi tidak mengherankan lagi apabila arti dan semangat kebangkitan nasional bagi mahasiswa semakin kabur jawabnya. Peristiwa dan kondisi memprihatinkan bangsa ini pun tidak dipahami. Permainan kongkalikong para elite penguasa dan elite kapitalis dalam pengadaan tender minyak, energi listrik, gas alam, serta telekomunikasi menjadi sebuah isu yang tidak menarik untuk dipahami. Perkembangan kasus korupsi yang sudah mulai ditangani KPK atau rekening gemuk para petinggi Polri bukanlah topik yang laku dalam obrolan. Diskusi ilmiah atau diskusi yang mengangkat tema-tema kebangsaan kembali hanya dihadiri oleh mahasiswa yang itu-itu saja.</p>
<p><strong><em>Bangkit dan Bergeraklah!</em></strong></p>
<p>Tokoh-tokoh pejuang yang pernah mengukir sejarah bagi bangsa ini banyak yang berasal dari kalangan mahasiswa Katolik. Hasil perjuangan mahasiswa Katolik masa lalu membuktikan kesetiaan mereka dalam mengemban tanggung jawabnya. Tanggung jawab tersebut tidaklah ringan. Mahasiswa Katolik sebagai pribadi bertanggungjawab kepada keluarga, kepada komunitasnya di kampus, kepada gereja secara teritorial (paroki atau stasi), kepada masyarakat dan bangsa Indonesia, serta mengemban tanggung jawab sebagai pengikut Kristus.</p>
<p>Dengan mengemban tanggung jawab itu mereka akan semakin memperkuat identitasnya sebagai mahasiswa Katolik. Identitas atau <em>identity</em> secara harfiah berarti ciri-ciri, tanda (simbol) atau jati diri yang melekat pada seseorang atau sesuatu yang membedakan dengan yang lain. Identitas sebagai mahasiswa Katolik berarti ciri-ciri yang melekat pada diri seorang mahasiswa Katolik yang membedakannya dengan mahasiswa yang lain. Identitas tersebut nantinya akan diikuti oleh konsekuensi yang menyertai berupa tanggung jawab serta tantangan yang harus dihadapi.</p>
<p>Mengakhiri refleksi ini saya ingin meneguhkan diri saya pribadi sebagai mahasiswa Katolik sembari mengajak kawan-kawan semua untuk bangkit dan bergerak dari suasana yang menggelayut saat ini. Untuk itu saya ingin membagikan kutipan dari sebuah tulisan Mgr. J Pujasumarta yang berjudul <em>Teologi Inkarnasi</em>.</p>
<p>Kedatangan Yesus ”dalam daging” disebut secara teologis penjelmaan, ”<em>inkarnasi</em>” (Yoh. 1:14), dan kematian-Nya ”dalam daging” disebut pengosongan diri, ”<em>kenosis</em>” (Fil. 2:7). Bila Gereja menemukan jati dirinya dalam Yesus Kristus yang menjadi daging ”<em>in carne</em>”, maka seperti Kristus  Gereja pun harus berani mengalami nasib menjadi korban untuk mewartakan Kerajaan Allah yang memerdekakan. Dengan demikian Gereja berada pada pihak manusia yang menjadi korban ketidakadilan. Jati diri Gereja ini hendaknya diwujudkan dalam <em>habitus</em> baru, yaitu solider dengan korban. Untuk itu perlu dikembangkan spiritualitas martyria.</p>
<p>Saya, Anda, kita semua sebagai mahasiswa Katolik adalah Gereja. Karena itu menjadi semakin jelaslah ke mana kita harus melangkah. Bangkit dan bergerak menjadi pribadi yang percaya diri menatap realitas zaman, tampil sebagai Generasi ”Cool” yang ”<em>sembada</em>”. Semoga mimpi ini menjadi pasti: lahir mahasiswa dan orang muda Katolik yang bangga memupuk idealisme dan tekun memperjuangkan integritas pribadi, menjadi seorang moralis sejati.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tb99.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tb99.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tb99.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tb99.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tb99.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tb99.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tb99.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tb99.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tb99.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tb99.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tb99.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tb99.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tb99.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tb99.wordpress.com/136/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tb99.wordpress.com&amp;blog=10062924&amp;post=136&amp;subd=tb99&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tb99.wordpress.com/2010/09/30/bangkit-dan-bergeraklah-refleksi-orang-muda-katolik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d93cbb419a0b6fcdc3b23703b4d58116?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tb99</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Prof. Dr. N. Driyarkara, SJ</title>
		<link>http://tb99.wordpress.com/2010/09/30/prof-dr-n-driyarkara-sj/</link>
		<comments>http://tb99.wordpress.com/2010/09/30/prof-dr-n-driyarkara-sj/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Sep 2010 07:59:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thian Budiarsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tb99.wordpress.com/?p=127</guid>
		<description><![CDATA[Beliau lahir di lereng Pegunungan Menoreh, tepatnya di Desa Kedunggubah, lebih kurang 8 km sebelah timur Purworejo, Kedu, Jawa Tengah tanggal 13 Juni 1913. nama kecilnya adalah Soehirman dan biasa dipanggil Djenthu. Tanggal 11 Februari 1967 ia dipanggil Tuhan untuk selama-lamanya dalam usia 53 tahun 8 bulan. Semasa hidupnya, pernah menempuh studi teologi di Maatsricht, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tb99.wordpress.com&amp;blog=10062924&amp;post=127&amp;subd=tb99&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em><a href="http://tb99.files.wordpress.com/2010/09/romo-driyarkara-sj.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-128" style="border:5px solid black;margin:3px 4px;" title="romo driyarkara, sj (http://picasaweb.google.com/lh/photo/edd3NL0kh4pMzjziJVYFgA)" src="http://tb99.files.wordpress.com/2010/09/romo-driyarkara-sj.jpg?w=168&#038;h=240" alt="" width="168" height="240" /></a></em></strong>Beliau lahir di lereng Pegunungan Menoreh, tepatnya di Desa Kedunggubah, lebih kurang 8 km sebelah timur Purworejo, Kedu, Jawa Tengah tanggal 13 Juni 1913. nama kecilnya adalah Soehirman dan biasa dipanggil Djenthu. Tanggal 11 Februari 1967 ia dipanggil Tuhan untuk selama-lamanya dalam usia 53 tahun 8 bulan.</p>
<p>Semasa hidupnya, pernah menempuh studi teologi di Maatsricht, Belanda yang ditamatkan pada tahun 1949. Kemudian pada tahun 1950-1952 ia melanjutkan studi filsafat untuk program doktoral pada Universitas Gregoriana Roma. Dalam masa studi itu, ia biasa mengirim tulisan ringan tetapi seringkali bermakna mendalam untuk majalah Bahasa Jawa di Yogyakarta <em>Praba</em>.</p>
<p>Sampai awal tahun 1951, namanya memang tidak banyak dikenal oleh khalayak ramai. Hampir seluruh waktunya ia pergunakan untuk studi secara intensif. Tetapi ini tidak berarti bahwa ia lalu mengurung diri dalam pemikiran-pemikiran yang abstrak atau teoretis belaka. Catatan-catatan harian yang ia buat sejak tanggal 1 Januari 1941 sampai sekitar tahun 1950 menunjukkan bagaimana ia tidak pernah lepas dari pergulatan dengan masalah-masalah yang dihadapi oleh umat manusia pada umumnya dan rakyat Indonesia pada khususnya.</p>
<p>Sekembali dari studinya, ia diangkat menjadi pengajar filsafat pada Kolese Ignasius di Yogyakarta. Kemudian, ketika Perguruan Tinggi Pendidikan Guru Sanata Dharma Yogyakarta didirikan pada awal tahun 1955-1956, ia diangkat menjadi pimpinannya. Ketika FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) berubah menjadi IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) pun, ia tetap menjabat sebagai Rektor hingga meninggalnya. Sejak tahun 1960 ia merangkap sebagai Guru Besar Luar Biasa pada Universitas Indonesia dan Universitas Hassanuddin. Tahun 1963-1964 ia mengajar sebagai Guru Besar tamu pada St. Louis University di kota St. Louis, Missouri, USA. Ini menjadi bukti bahwa sumbangannya terhadap dunia pendidikan memang berarti. Sebagai pendidik ia juga masih bersedia memberi diri untuk memimpin majalah <em>Basis</em> (1953-1965).</p>
<p>Baktinya untuk Indonesia ia tuangkan dalam pemikirannya yang luas, meliputi wilayah kemanusiaan, kebudayaan, sosialitas, etika, pendidikan, dan kenegaraan terutama pemikirannya tentang ideologi pancasila. Sumbangannya pada waktu peralihan Orde Baru dalam memikirkan kembali peranan Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara tetap merupakan tinjauan-tinjauan yang mendalam dan mendasar.</p>
<p>Ia dikenal sebagai pemerkaya khasanah filsafat bagi masyarakat. Ia banyak menulis pada majalah <em>Basis</em>, dengan judul pertamanya: “Gereja Katolik dan Poligami”. Banyak tulisan-tulisannya yang bernas dengan kadar filosofis yang mantap. Karena segala sumbangsihnya untuk Bangsa Indonesia, Presiden RI, BJ Habibie pada tanggal 13 Agustus 1999 menganugerahi Tanda Kehormatan <em>Bintang Jasa Utama</em>.</p>
<p>Ia juga seorang pecinta alam. Dalam salah satu tulisannya dikisahkan bagaimana ia begitu menikmati pendakian gunung berapi tersohor di Italia yaitu Visuvio. Teman-temannya mengakui kekuatan fisiknya yang terbukti dari keunggulannya naik turun gunung.</p>
<p><strong><em>Prof. Dr. Fuad Hassan menggambarkan perjalanan hidup pemikir Drijarkara sebagai yang “terus menerus menjelang, terus menerus membelum, namun punya satu kepastian, yaitu meluluhkan diri dengan Tuhan Sumber Kebenaran. Oleh karena itu pula, maka jiwa penjelajahannya tidak membuat beliau sebagai pemikir petualang, melainkan pemikir promenade yang mampu menghayati pagi sebagai aubade kemanusiaan semesta dan malam sebagai serenade yang rindu kepada hari esok; bagi beliau kehidupan ini adalah suatu simfonia universil yang dianugerahkan Tuhan kepada umat manusia.”</em></strong></p>
<p>*dikutip dari buku &#8220;Karya Lengkap Driyarkara&#8221;<strong><em><br />
</em></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tb99.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tb99.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tb99.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tb99.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tb99.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tb99.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tb99.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tb99.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tb99.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tb99.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tb99.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tb99.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tb99.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tb99.wordpress.com/127/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tb99.wordpress.com&amp;blog=10062924&amp;post=127&amp;subd=tb99&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tb99.wordpress.com/2010/09/30/prof-dr-n-driyarkara-sj/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d93cbb419a0b6fcdc3b23703b4d58116?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tb99</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tb99.files.wordpress.com/2010/09/romo-driyarkara-sj.jpg?w=210" medium="image">
			<media:title type="html">romo driyarkara, sj (http://picasaweb.google.com/lh/photo/edd3NL0kh4pMzjziJVYFgA)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mewarisi Nilai Pluralis Multikultural Gus Dur</title>
		<link>http://tb99.wordpress.com/2010/09/30/mewarisi-nilai-pluralis-multikultural-gus-dur/</link>
		<comments>http://tb99.wordpress.com/2010/09/30/mewarisi-nilai-pluralis-multikultural-gus-dur/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Sep 2010 07:14:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thian Budiarsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tb99.wordpress.com/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[“Itulah Gus Dur, sosok yang memiliki komitmen kuat tentang pluralisme Indonesia. Dia juga pembawa pemikiran Islam modern dalam semangat tradisional. Sebab itulah mungkin yang menyebabkannya dituduh terlalu liberal dalam pikiran tentang keagamaan.”(Suara Merdeka, 29 Januari 2010) Dalam kutipan pernyataan itu, Rosi Sugiarto, penulis buku Keajaiban Gus Dur “Sang Manusia Super”, secara langsung mengungkap kesannya terhadap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tb99.wordpress.com&amp;blog=10062924&amp;post=122&amp;subd=tb99&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<em>Itulah Gus Dur, sosok yang memiliki komitmen kuat tentang pluralisme Indonesia. Dia juga pembawa pemikiran Islam modern dalam semangat tradisional. Sebab itulah mungkin yang menyebabkannya dituduh terlalu liberal dalam pikiran tentang keagamaan</em>.”(Suara Merdeka, 29 Januari 2010)<span id="more-122"></span><a href="http://tb99.files.wordpress.com/2010/09/gus-dur.jpg"><img class="size-medium wp-image-123 alignright" style="border:4px solid black;margin-top:9px;margin-bottom:9px;" title="Gus Dur (kaskus.us)" src="http://tb99.files.wordpress.com/2010/09/gus-dur.jpg?w=259&#038;h=250" alt="" width="259" height="250" /></a></p>
<p>Dalam kutipan pernyataan itu, Rosi Sugiarto, penulis buku <em>Keajaiban Gus Dur “Sang Manusia Super”</em>, secara langsung mengungkap kesannya terhadap Gus Dur. Tidak hanya pemikiran beliau yang dianggap mencerahkan, segala unsur tanda yang ada pada diri Gus Dur pun dianggap penuh makna. Maka dari itu melalui bukunya, Rosi mencoba mengurai keunikan dan keajaiban mantan Presiden RI ke empat itu, semasa beliau masih hidup. Ia mencoba menerjemahkan segala unsur semiotik angka yang memenuhi kehidupan Gus Dur.</p>
<p>Rosi telah mencoba merangkai serpih-serpih kehidupan Gus Dur dan menjadi representasi orang-orang yang menaruh perhatian besar pada figur pemihak keberagaman itu. Warisan nilai dan ajaran dari tokoh besar kaum Nahdliyin itulah yang hingga kini patut menjadi cermatan di tengah rongrongan sikap eksklusifisme yang kian hari kian mengancam. Semangat menghargai keberagaman serta keterbukaan untuk menjalin komunikasi dan kerja sama antarkelompok dengan perbedaan latar belakang menjadi jalan menuju keadilan, kesejahteraan dan perdamaian.</p>
<p>Indonesia dengan potensi kekayaan alam dan sumber daya manusianya secara historis adalah Negara yang plural; memiliki 6000-an pulau yang ditempati oleh 300-an suku serta menampilkan keberagaman budaya dengan 400-an bahasa dan lebih dari 6 agama dan kepercayaan. Sebagai bangsa yang pernah gilang-gemilang dalam puncak kejayaan Nusantara, kita tidak cukup hanya sekedar tahu akan konteks pluralitas ini. Kebesaran kita sebagai bangsa sesungguhnya terletak pada bagaimana kita sadar dan mampu hidup bersama di dalamnya, mengalami perbedaan dalam kesamaan (<em>to experience difference in equality</em>), serta bersedia bekerja sama untuk kemaslahatan bersama (Ali, 2003: 94).</p>
<p>Berpijak dari pengalaman yang pernah penulis rasakan, hidup dalam situasi heterogen dengan perbedaan latar belakang agama yang berbeda misalnya, tidaklah mudah. Seringkali muncul rasa canggung, apalagi ketika <em>minority syndrome</em> lebih menguasai diri dalam pergaulan dan proses interaksi sosial. Dalam situasi tersebut, apa yang ditulis Muhamad Ali menjadi tepat. Bahwa seorang multikulturalis tidak beragama secara mutlak-mutlakan. Artinya, ketika klaim kebenaran yang dianutnya dilihat dari luar, maka ia menjadi tidak mutlak. Ini bisa disebut dengan sikap keberagaman ‘<em>relatively absolute</em>’ – dengan mengatakan, ”Apa yang saya anut memang benar dan saya berjuang untuk mempertahankannya, tetapi tetap saja relatif ketika dihubungkan dengan apa yang dianut orang lain, karena orang lain melihat apa yang saya anut dari kaca mata anutan orang lain itu.”(2002: 79)</p>
<p>Tragedi Malino I Desember 2001 dan Malino II Februari 2002 di Maluku, perang antarsuku di Sampit yang melibatkan Suku Dayak dan Madura 2001, dan banjir darah anyir di Legian akibat pengeboman 2 Oktober 2002, sudahlah cukup menjadi pengalaman pahit. Kita bisa belajar bahwa eksklusifisme kelompok dapat terseret pada fanatisme dan rawan menyulut perpecahan. Pendidikan pluralis multikultural bisa menjadi jembatan untuk menyikapi perbedaan yang ada. Sejarah telah mencatat bahwa figur seorang Al-Biruni, tokoh Muslim multikulturalis dan sekaligus ilmuwan yang kemudian warisannya diteruskan oleh Gus Dur di Indonesia, adalah model yang menyejukkan bagi iklim keberagaman.</p>
<p>Dalam konteks keberagaman dan keindonesiaan, Gus Dur telah menunjukkan keberaniannya membuka tabir diskriminasi etnis yang berpuluh tahun membelenggu saudara kita etnis Tiong Hoa. Dengan lantang beliau juga menyuarakan ketegasan prinsipnya bahwa klaim kebenaran absolut dari sebuah ajaran adalah benih bagi tumbuhnya fundamentalisme radikal yang sewaktu-waktu dapat menghancurkan keutuhan NKRI. Dalam berbagai kesempatan dialog, Gus Dur begitu hangat merangkul, menyapa dan berbagi gagasan dengan beberapa tokoh agama di negeri ini.</p>
<p>Demikianlah, apa yang menjadi perkataan Al-Zubaidi di abad ke sepuluh, <em>All lands in their diversity are one, and men are all neighbours and brothers</em> semoga menjadi perwujudan bagi Indonesia yang telah begitu lama bersemboyan sebagai pemuja Bhinneka Tunggal Ika.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tb99.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tb99.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tb99.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tb99.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tb99.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tb99.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tb99.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tb99.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tb99.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tb99.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tb99.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tb99.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tb99.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tb99.wordpress.com/122/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tb99.wordpress.com&amp;blog=10062924&amp;post=122&amp;subd=tb99&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tb99.wordpress.com/2010/09/30/mewarisi-nilai-pluralis-multikultural-gus-dur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://tb99.files.wordpress.com/2010/09/gus-dur.jpg?w=150" />
		<media:content url="http://tb99.files.wordpress.com/2010/09/gus-dur.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Gus Dur (kaskus.us)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d93cbb419a0b6fcdc3b23703b4d58116?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tb99</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tb99.files.wordpress.com/2010/09/gus-dur.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Gus Dur (kaskus.us)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kontestasi President Idol</title>
		<link>http://tb99.wordpress.com/2010/09/30/kontestasi-president-idol-2/</link>
		<comments>http://tb99.wordpress.com/2010/09/30/kontestasi-president-idol-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Sep 2010 05:55:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thian Budiarsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tb99.wordpress.com/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[Tanggal 8 Juli 2009 ini, Indonesia memilih pemimpin tertingginya yang akan menduduki kursi RI-1. Dalam tiga bulan terakhir, tiga kontestan pasangan calon presiden dan wakil presiden telah beradu taktik dan strategi merebut simpati rakyat – para konstituen mereka. Muncullah suguhan menarik pesta demokrasi ala Indonesia bertajuk President Idol. Hampir semua stasiun televisi nasional menyajikan liputan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tb99.wordpress.com&amp;blog=10062924&amp;post=100&amp;subd=tb99&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tanggal 8 Juli 2009 ini, Indonesia memilih pemimpin tertingginya yang akan menduduki kursi RI-1. Dalam tiga bulan terakhir, tiga kontestan pasangan calon presiden dan wakil presiden telah beradu taktik dan strategi merebut simpati rakyat – para konstituen mereka. Muncullah suguhan menarik pesta demokrasi ala Indonesia bertajuk President Idol.</p>
<p>Hampir semua stasiun televisi nasional menyajikan liputan seputar figur Megawati-Prabowo, SBY-Boediono, dan Jusuf Kalla-Wiranto lengkap dengan kontroversi serta jualan politik mereka. Media dengan lihai mengemas isu politik menjelang pilpres dan menyedot sebesar-besarnya atensi publik.</p>
<p>Berawal dari kemenangan Partai Demokrat dalam Pemilu Legislatif, berita politik mulai gencar menghiasi layar kaca dan headline surat kabar. Kekisruhan Daftar Pemilih Tetap dan tuntutan para caleg yang gagal menuju parlemen menjadi informasi yang begitu banyak dimuat oleh media. Menyusul kemudian berita seputar bursa pasangan capres-cawapres yang mulai ramai. Lobi-lobi politik dengan berbagai kepentingan yang ada di baliknya disajikan sebagai sebuah tontonan layaknya pertunjukan wayang semalam suntuk.</p>
<p>Berdasarkan hasil Pemilu Legislatif, sembilan partai politik dinyatakan lolos ambang batas minimal parlemen. Kemudian muncul nama-nama kandidat presiden beserta spekulasi wakil presiden pendamping mereka. Hiruk pikuk politik terjadi. Masyarakat sebagai audience media merespon dengan keingintahuan menggebu, tetapi ada juga kelompok publik yang acuh seolah tak mau tahu. Mereka yang mau tahu, asik membicarakan satu potret kehidupan politik negeri ini di sudut-sudut warung kopi.</p>
<p>Akhirnya terjawablah tanda tanya, spekulasi, dan tebak-menebak seputar kandidat presiden dan wakilnya yang akan memimpin dua ratusan juta manusia di republik ini. Kandidat yang mendeklarasikan diri pertama kali sebagai capres dan cawapres adalah pasangan Jusuf Kalla-Wiranto. Dengan mengambil akronim JK-Win, pasangan dari koalisi Partai Golkar dan Hanura ini mengusung tagline “Lebih cepat, lebih baik dengan hati nurani.” Sembari mengenang dua proklamator RI, pasangan JK-Win memilih tugu proklamasi sebagai tempat untuk menyatakan diri mereka maju dalam Pilpres 2009.</p>
<p>Sejarah politik kembali berlanjut. Dua tokoh yang semula diprediksi tidak akan berjalan bersama, yakni Megawati dari PDI Perjuangan dan Prabowo dari Partai Gerindra menyatakan siap maju sebagai kandidat presiden dan wakil presiden. Tidak kalah heboh dengan pasangan JK-Win, Mega-Prabowo mendeklarasikan diri sebagai pasangan capres-cawapres di Tempat Pembuangan Akhir Bantar Gebang, Bekasi. Jargon sebagai pasangan yang setia membela wong cilik serta akan berjuang untuk petani dan nelayan menjadi senandung merdu yang selalu mereka kumandangkan.</p>
<p>Pasangan ketiga lahir dari Koalisi Biru. Partai Demokrat sebagai pemenang Pemilu Legislatif mengusung Susilo Bambang Yudhoyono. Meski menggandeng PAN, PKB, PPP, PKS, dan partai kecil yang lain, SBY memutuskan untuk meminang calon wakil presiden dari kalangan non partai. Drama politik dan lobi-lobi panas kembali disuguhkan. Masyarakat penyuka politik dibuat penasaran dan bertanya-tanya siapa gerangan cawapres yang akan mendampingi SBY. Dan rupanya SBY lebih memilih Boediono. Mereka mendeklarasikan diri sebagai pasangan capres-cawapres di Sasana Budaya Ganesha Bandung. Suasana bergelora dipenuhi gegap gempita simpatisan memantapkan langkah untuk melanjutkan pemerintahan.</p>
<p>Genderang perebutan kursi panas RI-1 ditabuh. Ketiga pasangan capres-cawapres berlomba meningkatkan elektabilitas mereka dengan beriklan baik di televisi, internet, maupun media  cetak. Dari hari ke hari tim sukses masing-masing calon semakin gencar mengiklankan kandidat yang mereka usung. Publik menjadi akrab dengan tagline ”Lebih cepat, lebih baik!” yang diusung oleh pasangan JK-Win. Mereka semakin mengenal Prabowo yang dicitrakan dekat dengan petani dan nelayan. Di banyak tempat sering terdengar jingel lagu ”SBY Presidenku”. Demikianlah iklan politik yang merebak mewarnai media menjadi santapan sehari-hari dan mengisi ruang santai keluarga Indonesia.</p>
<p>Siapakah yang akan menang? Setelah tanggal 8 Juli bisa jadi pertanyaan tersebut bisa terjawab, setidaknya melalui penghitungan cepat yang marak dilakukan oleh banyak lembaga survey. Uniknya, preferensi pemilih Indonesia sedikit banyak seakan terpengaruh oleh kemasan citra personal. Kehebohan program Idola produksi salah satu stasiun televisi, entah Indonesian Idol, Idola Cilik, dls teradopsi dalam beberapa acara talkshow dan debat politik.</p>
<p>Sembari mengingat, dari tiga kali debat capres dan dua kali debat cawapres, stasiun televisi penyelenggara selalu mengadakan polling sms. Pemirsa yang berminat bisa mengirim sms untuk memilih figur capres atau cawapres favorit mereka dengan membayar premium call Rp2.000,00 per sms. Hasil polling ini pun ditayangkan di akhir acara, mirip dengan program tayangan bertajuk Idol.</p>
<p>Bahkan hingga debat capres final yang diselenggarakan oleh KPU bekerjasama dengan RCTI, polling sms ini tetap berjalan. SBY selalu memimpin peroleh suara versi polling sms dalam setiap kesempatan debat. Pada debat final yang lalu, presenter menginformasikan hasil polling dan mengatakan hasil tersebut hanya mewakili 2% dari keseluruhan jumlah pemilih. Dikatakan pula, hasil polling tersebut tidak dimaksudkan untuk mengarahkan suara pemilih pada salah satu calon. Apabila demikian, lalu apa signifikansi dari polling sms capres dan cawapres tersebut?</p>
<p>Dari hitung-hitungan ekonomi, jelas ada motivasi profit. Dengan harga premium call Rp.2.000,00 per sms akan menghasilkan uang berlipat ganda ketika ada 1.000.000 pengirim sms. Keuntungan yang didapat tentu menjadi pundi-pundi yang nominalnya hanya diketahui oleh pihak stasiun televisi penyelenggara, operator penyelenggara polling, dan atau bisa jadi KPU.</p>
<p>Selanjutnya, lepas dari hitung-hitungan keuntungan, polling sms capres-cawapres bisa dikatakan berperan membodohkan publik. Secara tidak langsung, publik terdidik untuk memilih calon presiden dan wakilnya dengan pertimbangan suka atau tidak suka, layaknya menentukan sang idola. Padahal, di balik keputusan memilih presiden dan wakilnya perlu ada usaha mengenal rekam jejak, mencermati visi dan misi mereka, serta menimbang kapasitas dan akuntabilitas setiap calon. Dalam logika memilih idola, aspek-aspek tersebut jelas terabaikan.</p>
<p>Idola akan dipilih karena ia disukai, menarik, dan dianggap berkesan. Polling sms menjadi satu indikasi adanya pengidolaan calon presiden dan wakil presiden. Apabila tren itu yang berkembang, negeri ini masih selamat sepanjang sang President Idol memang merupakan figur negarawan dan bercita-cita menyejahterakan rakyat. Namun, ketika sang President Idol hanyalah tokoh yang cakap memoles diri, hancurlah negeri ini.</p>
<p>Bangsa ini jelas butuh presiden yang berikhtiar membangun negeri. Semoga siapa pun nanti tokoh yang terpilih, ia mampu membawa Indonesia menuju kejayaan. Dengan demikian lima tahun mendatang keadaan menjadi semakin baik dan lahirlah Presiden Teridola bukan sekedar Calon Presiden Idola.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tb99.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tb99.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tb99.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tb99.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tb99.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tb99.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tb99.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tb99.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tb99.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tb99.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tb99.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tb99.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tb99.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tb99.wordpress.com/100/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tb99.wordpress.com&amp;blog=10062924&amp;post=100&amp;subd=tb99&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tb99.wordpress.com/2010/09/30/kontestasi-president-idol-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d93cbb419a0b6fcdc3b23703b4d58116?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tb99</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Inspirasi Kecil tentang Kecintaan Membaca</title>
		<link>http://tb99.wordpress.com/2009/10/24/inspirasi-kecil-tentang-kecintaan-membaca/</link>
		<comments>http://tb99.wordpress.com/2009/10/24/inspirasi-kecil-tentang-kecintaan-membaca/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 04:16:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thian Budiarsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tb99.wordpress.com/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[Membaca sewajarnya menjadi aktivitas yang dekat dengan para mahasiswa. Kuliah menuntut kekayaan wacana dan wawasan yang mendorong saya dan teman-teman sekalian untuk semakin dekat dengan buku serta beraneka referensi penunjang lainnya. Informasi surat kabar, majalah, atau artikel dari internet merupakan sumber yang sering kita akses dan menjadi bahan bacaan untuk memperkaya khasanah pengetahuan. Namun, apakah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tb99.wordpress.com&amp;blog=10062924&amp;post=97&amp;subd=tb99&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Membaca sewajarnya menjadi aktivitas yang dekat dengan para mahasiswa. Kuliah menuntut kekayaan wacana dan wawasan yang mendorong saya dan teman-teman sekalian untuk semakin dekat dengan buku serta beraneka referensi penunjang lainnya. Informasi surat kabar, majalah, atau artikel dari internet merupakan sumber yang sering kita akses dan menjadi bahan bacaan untuk memperkaya khasanah pengetahuan. Namun, apakah kita benar-benar sudah mempunyai kebiasaan membaca? Jangan-jangan bahan bacaan tadi menjadi akrab bagi kita ketika terdesak untuk merampungkan tugas kuliah saja?<br />
<strong><br />
Kaum Muda ’Tempo Doeloe’ yang Menginspirasi</strong><br />
Ada banyak tokoh mahasiswa yang namanya sudah terukir oleh sejarah. Perjuangan mereka terbukti sudah menciptakan perubahan bagi negeri ini. Sebut saja Soe Hok Gie yang pada era 1966 begitu teguh pada prinsip berjuang lewat penanya. Atau Auwjong Peng Koen yang kemudian lebih dikenal PK. Ojong dengan perjuangannya menyuarakan persamaan hak bagi masyarakat Tiong Hoa. Pada 1954, PK Ojong bersama Siauw Giok Tjhan, Yap Thiam Hien, Go Gien Tjwan dan Oei Tjoe Tat tergabung dalam Baperki yang fokus memperjuangkan hak masyarakat Tiong Hoa di Indonesia.</p>
<p>Kita juga pasti masih ingat detik-detik menjelang proklamasi kemerdekaan bangsa ini. Tanggal 16 Agustus tokoh-tokoh muda kita mengambil insiatif untuk mengamankan Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok. Padahal satu minggu sebelum proklamasi kemerdekaan, tanggal 9 Agustus 1945, Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta dan Dr. Radjiman Wediodiningrat singgah ke Taiping yang terletak di Semenanjung Malaya. Di Taiping mereka mengadakan pertemuan dengan para pemimpin gerakan kebangsaan Melayu untuk membicarakan upaya persiapan kemerdekaan. Dan mereka bersepakat untuk menyatakan kemerdekaan bangsa pada tanggal 22 Agustus 1945. Namun, atas desakan teman-teman muda waktu itu, akhirnya proklamasi kemerdekaan dinyatakan lebih awal dari kesepakatan sebelumnya pada tanggal 17 Agustus 1945.</p>
<p>Mereka, kaum muda serta mahasiswa pada zaman itu telah menorehkan sejarah perjuangan. Sumbangan mereka bagi negeri ini sangatlah besar. Yang terutama bagi mahasiswa masa kini adalah inspirasi dan nilai keteladanan yang mereka wariskan. Dalam kondisi yang serba menghimpit, dengan penuh semangat Soe Hok Gie, Auwjong Peng Koen, dan teman-teman era 45 berjuang membuat sebuah perubahan ke arah lebih baik. </p>
<p>Kaum muda ’tempo doeloe’ sangat sensitif dengan permasalahan kebangsaan. Dari hari ke hari mereka semakin menyadari bahwa modal utama untuk membebaskan Indonesia dari tangan penjajah adalah kekayaan pengetahuan. Mulailah bermunculan intelektual-intelektual muda yang begitu getol mempelajari sejarah kelam masa lalu Indonesia serta berbagai pengetahuan yang sebelumnya terpendam bagai harta karun. Mereka mulai mencintai kebiasaan membaca, berargumen baik secara lisan maupun tertulis, serta menajamkan gagasan lewat diskusi. Itu semua digerakkan oleh sebuah cita-cita luhur yakni menuju alam kemerdekaan.</p>
<p>Kebiasaan membaca semakin memperkaya isi kepala para intelektual muda ‘tempo doeloe’ dengan berbagai perspektif tentang perjuangan pembebasan Indonesia. Kekayaan pengetahuan dan gagasan itu pun mendorong mereka untuk berbagi dengan yang lain. Banyak terbitan surat kabar mulai berdiri. Salah satunya adalah koran Keng Po yang berdiri pada tahun 1945. Waktu itu pemimpin redaksi terbitan ini adalah Injo Beng Goat yang kemudian menjadi teman karib PK. Ojong. Keng Po sempat ditutup karena dirasa terlalu frontal menentang Jepang. Namun, pada 2 Januari 1947 hidup kembali dan semakin setia menajamkan wacana kritis masyarakat era itu dengan semangat perjuangan.</p>
<p>Selain terbitan koran Keng Po, lahir pula terbitan majalah mingguan Star Weekly pada 6 Januari 1946. Pada awal terbitnya, majalah ini dipimpin oleh Tan Hian Lay. Kemudian Auwjong Peng Koen semakin terlibat membesarkan majalah mingguan tersebut. Auwjong menunjukkan dedikasi yang tinggi pada majalah ini. Ia juga merupakan sosok yang sangat gemar membaca, karenanya kemudian ia dipercaya sebagai redaktur pelaksana Star Weekly.</p>
<p>Terkait kebiasaan membaca Auwjong, Helen Ishwara dalam <em>Hidup Sederhana Berpikir Mulia</em> PK. Ojong, berkisah banyak. “<em>Buku catatan harian Auwjong penuh judul buku, tanggal, dan harga pembeliannya. Ia rajin menjelajahi toko buku, buku baru atau pun bekas. Kalau menginap di Bandung, di rumah sahabatnya semasa di HCK, Liem Boen Tik, ia bukan hanya senang nongkrong makan sate di kota sejuk ini, tetapi juga tidak lupa pergi ke pasar loak, tempat buku-buku bekas digelar.</em>” Ojong benar-benar mencintai buku.<br />
<strong><br />
Belajar dari Mereka</strong><br />
Mahasiswa masa ini – saya dan teman-teman sekalian, agaknya perlu banyak belajar dari sosok seperti PK. Ojong, Injo Beng Goat, Soe Hok Gie, serta tokoh-tokoh muda Rengasdengklok. Mereka tampil sebagai kaum muda yang memiliki intelectual habits. Ojong dan Injo adalah pemimpin redaksi yang kaya wawasan karena mereka berdua sama-sama kutu buku. Gagasan mereka diikuti oleh banyak orang. Soe Hok Gie dan tokoh muda Rengasdengklok juga patut diteladani. Mereka memiliki keteguhan prinsip. Sangat gemar menajamkan gagasan lewat diskusi dan punya kepercayaan diri untuk berargumen.</p>
<p>Di zaman ini pun muncul sosok pahlawan intektual yang begitu getol menyebarkan virus gemar membaca. Dari sebuah artikel di harian <em>KOMPAS</em>, edisi 8 November 2008 saya menemukan kutipan seperti ini: “Saya tidak akan pernah berhenti mengajak bangsaku untuk gemar membaca agar menjadi bangsa yang cerdas supaya kelak dapat menyelesaikan persoalan bangsa.” Itulah pernyataan Parmanto, lelaki berusia 62 tahun yang berkomitmen mengajak sebanyak-banyaknya orang agar mempunyai kebiasaan membaca.</p>
<p>Mantan pegawai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah itu, sejak tahun 2005 mengusahakan pendirian taman bacaan umum. Ia merelakan salah satu rumahnya untuk diisi 2000 koleksi buku berupa komik, novel, buku pelajaran, dan bahan skripsi dan menamainya “Taman Bacaan Mortir Parmanto.” Mula-mula taman bacaan yang berlokasi di Jalan  Meranti Timur Dalam I/346, Banyumanik, Semarang tersebut setiap hari didatangi oleh 20-30 pengunjung. Namun, kini jumlah pengunjung mulai berkurang, hanya sekitar 10 orang saja setiap harinya dan sebagian besar adalah siswa Sekolah Dasar.</p>
<p>Itulah sekelumit cerita dari figur seorang Parmanto yang mewakili para pecinta buku dan sadar akan arti penting membaca. Parmanto tidak menyimpan sendiri kekayaan khasanah pengetahuannya. Ia ingin berbagi dengan orang lain, mengajak sebanyak-banyaknya teman, tetangga dan para kerabat untuk mulai gemar membaca. </p>
<p>Semoga, mahasiswa zaman ini – saya dan teman-teman sekalian semakin menyadari arti penting membaca. Paradigma membaca buku sekedar untuk menyelesaikan tugas kuliah terkikislah sudah. Mari kita amini buku sebagai sumber kekayaan ilmu. Semakin memperdalam isi kepala kita, menambah wacana dan gagasan untuk berargumen serta memantapkan pribadi para mahasiswa sebagai calon intelektual muda masa ini. Itu semua lahir dari sebuah kesetiaan untuk mau duduk berdiam beberapa lama sembari mengunyah harta di dalam sebuah sumber bacaan – apa pun itu wujudnya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tb99.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tb99.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tb99.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tb99.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tb99.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tb99.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tb99.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tb99.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tb99.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tb99.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tb99.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tb99.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tb99.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tb99.wordpress.com/97/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tb99.wordpress.com&amp;blog=10062924&amp;post=97&amp;subd=tb99&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tb99.wordpress.com/2009/10/24/inspirasi-kecil-tentang-kecintaan-membaca/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d93cbb419a0b6fcdc3b23703b4d58116?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tb99</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BALADA KAKI LIMA</title>
		<link>http://tb99.wordpress.com/2009/10/24/balada-kaki-lima/</link>
		<comments>http://tb99.wordpress.com/2009/10/24/balada-kaki-lima/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 04:11:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thian Budiarsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tb99.wordpress.com/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[“…..di malam yang sesunyi ini, aku sendiri, tiada yang menemani. Hanya dirimu yang kucinta dan kukenang. Di dalam hatiku, tak kan pernah hilang, bayangan dirimu untuk selamanya…..” Penulis beberapa kali ikut ngamen dalam rangka pencarian dana yang dilakukan oleh teman-teman mahasiswa dari PRMK Fisip Undip. Menjelang kegiatan ziarah, “genjrengan” gitar dan potongan lagu menjadi modal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tb99.wordpress.com&amp;blog=10062924&amp;post=94&amp;subd=tb99&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<em>…..di malam yang sesunyi ini, aku sendiri, tiada yang menemani. Hanya dirimu yang kucinta dan kukenang. Di dalam hatiku, tak kan pernah hilang, bayangan dirimu untuk selamanya…..</em>”</p>
<p>Penulis beberapa kali ikut ngamen dalam rangka pencarian dana yang dilakukan oleh teman-teman mahasiswa dari PRMK Fisip Undip. Menjelang kegiatan ziarah, “genjrengan” gitar dan potongan lagu menjadi modal untuk mengumpulkan uang dari para penikmat makanan di sepanjang Jalan Pahlawan. Dinamika dan pengalaman ini masih terngiang dan menjadi bahan refleksi untuk bercerita tentang pedagang kaki lima.</p>
<p>Beberapa saat menjelang perhelatan Semarang Pesona Asia, kebijakan penertiban pedagang kaki lima yang berjualan di sekitar Simpang Lima dan sepanjang Jalan Pahlawan mulai mengemuka. Sontak, muncul penolakan sekaligus pengiyaan menyangkut kebijakan itu. Para pedagang ronde dan kacang godhok di depan Gedung Berlian, tenda-tenda penjaja pecel layaknya ‘Pecel Mbak Tum’ yang selalu ramai, kedai es buah dan tahu gimbal, serta banyak jualan ala kaki lima lainnya terancam diusir dari tempat pencarian nafkah mereka.</p>
<p>Bagi para pedagang kaki lima, kebijakan penertiban tersebut menjadi bukti ketidakadilan dan sikap tidak memihak pada pedagang kecil. Simpang Lima merupakan titik ramai yang menjadi pusat kegiatan ekonomi mikro. Tiap malam banyak orang berjalan-jalan di pusat kota sembari mencari tempat makan. Tenda-tenda kaki lima dengan aneka makanannya menjadi pilihan. Para pedagang berjejer rapi menjajakan makanan, mengais rezeki untuk menghidupi anak istri. Lalu, ke mana mereka harus pergi ketika Simpang Lima dan kawasan Pahlawan dibersihkan?</p>
<p>Potret miris mengenai pedagang kaki lima tidak hanya terlihat di Jalan Pahlawan. Beberapa kali penulis menjumpai petugas Satpol PP mengusir paksa pedagang kaki lima di sekitar Erlangga. Gerobak dagangan beserta isinya diangkut paksa menggunakan truk. Ibu pemilik gerobak kaki lima menjerit – menolak, menangis – menderu. Pemandangan itu menjadi wajar. Mereka tak tahu harus bagaimana menghidupi diri dan keluarga. Menyandarkan kepala di waktu malam pun mereka tak punya tempat lagi. Entah di mana arti kebebasan hidup dan jaminan atas kehidupan yang layak.</p>
<p>Di lain pihak, ada saja yang menganggap kebijakan pembersihan jalan kota dari para pedagang kaki lima adalah hal yang tepat dan berdasar. Alasan untuk meningkatkan keindahan dan mempercantik tata kota menjadi langganan. Kota Semarang – tanpa kaki lima – sebagai ibu kota Jawa Tengah, dianggap akan semakin indah. Ketika jalan-jalan di sepanjang Pahlawan bersih dari para pedagang, berhasillah pemerintah mengelola kota. Itulah pendapat mereka. Menyusul kemudian berbaris alasan normatif nan pragmatis pendukung kebijakan itu.</p>
<p>Bagaimana pun kebijakan itu merugikan para pedagang. Mereka kehilangan mata pencaharian. Bisa dibayangkan, ketika berjualan adalah mata pencaharian utama untuk menghidupi keluarga terampas, mereka hidup terlunta. Anak, istri, dan keluarga ikut menanggung derita.</p>
<p>Kerugian lainnya, perekonomian di sektor mikro terhenti. Aktivitas jual beli di kelas pedagang kecil dan eceran tersumbat. Gaya belanja dan pola konsumsi semakin terarah ke model swalayan, mall, dan pusat belanja – raksasa perdagangan yang menghisap naluri konsumtivisme. Boleh dikata realita ini masih terlalu jauh. Namun, ketika subjek ekonomi mikro, yakni mereka para pedagang kecil, dikorbankan untuk alasan apa pun, kondisi itu semakin pasti terjadi.</p>
<p>Yang lebih utama adalah fakta perampasan hak atas penghidupan yang layak. Para pedagang kaki lima memiliki hak atas hidup yang layak. Mereka mencapai itu dengan berjualan di pinggir jalan. Keterbatasan modal, keterampilan, dan kesempatan membuat mereka melakukannya. Yang pasti mereka berhak bekerja dan menghidupi diri dengan cara yang halal.</p>
<p>Cerita duka lain akan terkisah oleh para pengamen dan peminta. Tak ada lagi tempat menyanyi dan menadahkan topi untuk mengisi perut dari uang recehan yang mereka kumpulkan. Mereka semakin terperosok ke dalam penderitaan. Demikianlah balada kaki lima lengkap dengan kisah anak jalanan, para pengamen dan peminta. Satu sisi kehidupan yang harus terusik oleh kebijakan dengan alasan untuk ketertiban.<br />
Andai para pedagang kaki lima merusak keindahan dan memperburuk tata kota, hendaknya perlu dipikirkan solusi yang lebih bijak tanpa merampas kemerdekaan. Yang pertama, bisa dipikirkan bagaimana menyiapkan lahan strategis untuk para pedagang. Selama ini mereka berjualan di sepanjang trotoar. Tidak dimungkiri ada beberapa persoalan yang ditimbulkan ketika para pedagang tidak memahami sistem pembuangan limbah dan upaya memelihara sanitasi. Kondisi tersebut antara lain mengakibatkan ruas jalan di sepanjang trotoar menjadi kotor, saluran air dan gorong-gorong tersumbat sampah, sehingga di musim hujan banjir mengancam.</p>
<p>Upaya relokasi ini harus dikomunikasikan dengan para pedagang. Kesepahaman gagasan dan tujuan harus terbangun. Pemerintah hendaknya tidak lagi berorientasi pada keuntungan. Para pedagang kaki lima pun hendaknya semakin sadar akan tujuan. Lahan dan posisi strategis menjadi sarana untuk mengakomodasi kepentingan para pedagang. Yang harus menjadi perhatian kemudian mengupayakan nominal retribusi seminimal mungkin.</p>
<p><em>Public sphere</em> harus berfungsi sebagaimana mestinya. Di beberapa tempat dibangun pujasera (pusat jajanan serba ada). Namun agaknya, tampilan, harga, sajian  serta biaya sewa tiap kedai relatif tidak terjangkau untuk para pedagang sekelas kaki lima. Pujasera justru mirip dengan food court yang banyak berjejer di mall dan supermarket. Pemerintah kota harus rela memilih kaki lima. Fasilitas umum, tanah Negara, serta kebijakannya semestinya diperuntukkan bagi mereka yang bermodal kecil, membutuhkan hidup layak. Karena itu, akan semakin indah ketika pujasera di Semarang entah di Jalan Gajahmada atau di Jalan Pemuda menjadi ‘milik’ para pedagang kaki lima.</p>
<p>Yang terakhir, kesadaran bersama menjadi prasyarat. Para pedagang kaki lima sewajarnya peka akan pemeliharaan fasilitas bersama. Pembuangan limbah dapur, pengelolaan sampah, pemerhatian sanitasi tempat berjualan dan pemenuhan kewajiban membayar retribusi harus dilakukan dengan disiplin. Selain itu, untuk kesehatan bersama wajib diperhatikan pentingnya pengadaan air bersih, cara penyajian makanan yang higienis serta kualitas makanan yang dijajakan.</p>
<p>Sikap pro pedagang kaki lima menjadi harapan. Gambaran akan kehidupan yang lebih layak bagi mereka – para pedagang kaki lima, peminta, dan pengamen – masih sebatas utopia. Ketika kesadaran akan pemihakan kepada mereka sudah terusik, semoga aksi nyata terlahir kemudian. Dan marilah kita dengungkan terus kesadaran itu sembari bersenandung: “Sempatkanlah untuk melihat di sekitar kita ada kesenjangan antara manusia…Lihat sekitar kita…”</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tb99.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tb99.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tb99.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tb99.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tb99.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tb99.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tb99.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tb99.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tb99.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tb99.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tb99.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tb99.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tb99.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tb99.wordpress.com/94/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tb99.wordpress.com&amp;blog=10062924&amp;post=94&amp;subd=tb99&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tb99.wordpress.com/2009/10/24/balada-kaki-lima/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d93cbb419a0b6fcdc3b23703b4d58116?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tb99</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dimulai dari Bersikap Kritis</title>
		<link>http://tb99.wordpress.com/2009/10/24/dimulai-dari-bersikap-kritis/</link>
		<comments>http://tb99.wordpress.com/2009/10/24/dimulai-dari-bersikap-kritis/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 04:04:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thian Budiarsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat Ilmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tb99.wordpress.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[Bagi anak kecil kecenderungan untuk mempertanyakan semua hal yang baru ia kenal adalah sesuatu yang wajar. Misalnya saja seorang anak berusia empat tahun yang baru saja mempunyai adik, bertanya kepada ibunya tentang dari mana adiknya dilahirkan, mengapa sesudah adiknya lahir perut ibu tidak besar lagi, dsb. Ketika setiap pertanyaan itu dijawab, maka akan muncul lagi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tb99.wordpress.com&amp;blog=10062924&amp;post=87&amp;subd=tb99&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi anak kecil kecenderungan untuk mempertanyakan semua hal yang baru ia kenal adalah sesuatu yang wajar. Misalnya saja seorang anak berusia empat tahun yang baru saja mempunyai adik, bertanya kepada ibunya tentang dari mana adiknya dilahirkan, mengapa sesudah adiknya lahir perut ibu tidak besar lagi, dsb. Ketika setiap pertanyaan itu dijawab, maka akan muncul lagi pertanyaan yang lain hingga (mungkin) pada suatu saat orang tua atau mereka yang menjadi sasaran pertanyaan anak kecil (orang dewasa) terpaksa memberikan jawaban yang penuh otoritas. Dan apabila hal itu yang terjadi maka secara tidak disadari matilah kecenderungan filosofis dalam diri anak. Pada akhirnya itu semua berujung pada hilangnya minat mereka untuk mencari kebenaran dan mereka menjadi terbiasa untuk menerima segala sesuatu tanpa perlu mempertanyakannya lagi.</p>
<p><strong>Filsafat dimulai dengan bertanya-tanya</strong><br />
Pada awalnya, sekitar abad 6 SM filsafat Barat lahir dengan munculnya Thales dari Miletos. Sekitar abad 6 SM pula, pengaruh Sokrates dan Plato dalam dunia filsafat mulai kentara. Pada saat itu, filsafat telah malang melintang selama kurang lebih 200 tahun. Ironisnya, hampir selama itu pula filsafat masih berjalan di tempat. Sokrates sama sekali tidak menuliskan sesuatu. Seringkali sulit untuk mengetahui kapan tokoh itu benar-benar mengajukan gagasan-gagasan yang diekspresikannya sendiri, dan kapan hanya bertindak sebagai penyuara gagasan Plato. Sokrates dan Plato berbeda dengan para filsuf di masa sebelumnya. Para filsuf sebelum Sokrates dan Plato dikenal sebagai filsuf Pra-Sokrates. Sepanjang sejarah perkembangan filsafat, filsuf Pra-Sokrates yang paling cemerlang adalah Pythagoras. Ia bukan sekedar filsuf yang menemukan dalil (teorema) pythagoras, melainkan juga berperan sebagai pemimpin religius, ahli matematika, ahli mistik, dan ahli gizi. Menandai era skolastik, pada abad 13, masa pertengahan filsafat ditandai dengan lahirnya tulisan Thomas Aquinas yang berisi komentar-komentarnya mengenai Aristoteles. Hingga akhirnya mulai bermunculan para filsuf dengan karya-karya filsafat mereka.</p>
<p>Apa itu filsafat? Filsafat sesungguhnya adalah metode, yaitu cara, kecenderungan, sikap bertanya, tentang segala sesuatu.  Filsafat mengajak kita semua untuk mempertanyakan segala sesuatu, mempersoalkan, mengkaji, dan mendalami hidup ini dalam segala aspeknya. Semua manusia yang selalu bertanya terus-menerus dan semua orang yang selalu cenderung mengajukan pertanyaan atas apa saja sesungguhnya adalah filsuf karena dengan mengajukan pertanyaan atas apa saja ia sudah berfilsafat. Bagi seorang anak kecil, sebagaimana halnya pula bagi filsuf, dan sesungguhnya bagi manusia pada umumnya, segala sesuatu yang ada dalam hidup ini adalah sebuah masalah, sebuah pertanyaan, sebuah teka-teki, dan merupakan sesuatu yang perlu dipahami. </p>
<p><strong>Kritis sebagai salah satu sifat dasar Filsafat</strong><br />
Dalam filsafat segala sesuatu yang mungkin dapat dipikirkan manusia akan memunculkan pertanyaan untuk ditelaah. Setelah terjawab masalah yang satu, mulailah muncul masalah yang lain untuk dicari pemecahannya, dan seterusnya. Maka akan terjadilah proses bertanya dan menjawab dan bertanya dan menjawab  terus menerus tanpa henti. Dan itulah filsafat, sebuah <em>quest</em>, sebuah pencarian, sebuah <em>question</em> tentang berbagai ide. Dari sana diketahui bahwa salah satu sifat dasar filsafat adalah kritis. Seseorang yang memiliki sikap kritis dalam dirinya muncul keinginan untuk mempertanyakan apa saja, tidak puas dengan jawaban yang ada, tidak percaya akan apa saja, dan selalu ingin tahu lebih dari yang sudah diketahui. </p>
<p>“<em>De omnibus dubitandum</em>!” Rene Descrates mendefinisikan sikap kritis sebagai sikap yang menyangsikan dan meragukan segala sesuatu yang dianggap sebagai metode utama filsafat, dan ilmu pengetahuan  pada umumnya. Maka bagi setiap orang yang kritis, hidup dihadapi dengan selalu mengajukan tanda tanya karena ia menganggap hidup bukan sekedar “<em>given</em>” (hal yang diberikan tanpa perlu dipersoalkan), melainkan suatu paradoks, teka-teki, masalah, yang perlu dipecahkan. Hal itu senada dengan apa yang diungkapkan oleh tokoh filsafat dunia, Sokrates, bahwa “hidup yang tidak dikaji tidak layak dihidupi.”</p>
<p><strong>Ilmu Pengetahuan</strong><br />
Sebagaimana dalam filsafat, dalam semua ilmu pun orang selalu mempertanyakan segala sesuatu. Mengapa demikian? Alasan pertama adalah sikap dasar selalu bertanya yang menjadi ciri khas filsafat memang kemudian merasuki segala cabang ilmu, yang semula bersatu dengan filsafat. Karena itu, filsafat sering disebut sebagai the mother of science. Ke dua, terkait dengan itu ada perbedaan dasar antara sikap bertanya dalam filsafat dan sikap bertanya dalam semua ilmu lainnya. Dalam filsafat kita mempertanyakan apa saja dari berbagai sudut, khususnya dari sudut yang paling umum dan mendasar menyangkut hakikat, inti, pengertian paling mendasar. Sedangkan dalam ilmu pengetahuan, yang dipertanyakan hanya satu saja kenyataan yang digumuli oleh ilmu itu dan dipertanyakan dari sudut pandang ilmu yang bersangkutan. Jadi, yang dipersoalkan filsafat adalah seluruh yaitu kenyataan dari sudut pandang yang paling mendasar.</p>
<p>Ilmu pengetahuan muncul karena apa yang sudah diketahui secara spontan dan langsung, disusun dan diatur secara sistematis dengan menggunakan metode yang bersifat baku. Dari situ ilmu pengetahuan didefinisikan sebagai keseluruhan sistem pengetahuan manusia yang telah dibakukan secara sistematis. Ini berarti ilmu pengetahuan lebih bersifat sistematis dan reflektif, sedangkan pengetahuan lebih bersifat spontan. Karena sifatnya yang sistematis dan reflektif serta telah dibakukan, maka ilmu pengetahuan benar-benar masuk akal. Ilmu pengetahuan dapat diterima atau dikritik oleh semua orang yang dapat menggunakan akalnya karena pada tingkat ini orang dapat mempertanyakan, mempersoalkan, mengkritik, menuntut pembuktian dan pertanggungjawaban atas kebenaran ilmu tersebut. </p>
<p><strong>Perkembangan Ilmu Pengetahuan</strong><br />
Ilmu berkembang begitu pesat demikian juga jumlahnya. Spesialisasi ilmu pada satu bidang telaah memungkinkan analisis yang makin cermat dan seksama sehingga objek kajian dari disiplin keilmuan itu pun menjadi semakin terbatas. Pada dasarnya cabang-cabang ilmu tersebut berkembang dari dua cabang utama yakni filsafat alam yang kemudian menjadi rumpun ilmu-ilmu alam (<em>the natural sciences</em>) dan filsafat moral  yang kemudian berkembang ke dalam cabang-cabang ilmu sosial (<em>the social sciences</em>). Ilmu-ilmu alam membagi diri lagi menjadi dua kelompok yakni ilmu alam (<em>the physical sciences</em>) dan ilmu hayat (<em>the biological sciences</em>). Ilmu alam bertujuan mempelajari zat yang membentuk alam semesta yang kemudian bercabang lagi menjadi fisika (mempelajari massa dan energi), kimia (mempelajari substansi zat), astronomi (mempelajari benda-benda langit), dan ilmu bumi (atau the earth sience yang mempelajari bumi kita ini). Tiap cabang ilmu itu kemudian membentuk ranting-ranting ilmu yang baru. Berbeda dengan ilmu alam, ilmu sosial berkembang agak lambat. Secara pokok, cabang utama ilmu sosial adalah antropologi, psikologi, ekonomi, sosiologi, dan ilmu politik. Kemudian cabang-cabang ilmu sosial ini juga melebar dalam cabang-cabang ilmu yang lebih spesifik kajian studinya.</p>
<p>Perkembangan ilmu pengetahuan yang begitu pesat itu tidak bisa dilepaskan dari adanya metode eksperimen yang menjadi jembatan antara penjelasan teoretis yang hidup di alam rasional dengan pembuktian yang dilakukan secara empiris. Eksperimen ini dimulai oleh ahli-ahli kimia yang pada mulanya didorong oleh tujuan untuk mendapatkan “obat ajaib untuk awet muda” dan “rumus membuat emas dari logam biasa.” Namun, lambat laun tujuan itu berkembang menjadi paradigma ilmiah. Di dunia barat, metode eksperimen ini diperkenalkan oleh filsuf Roger Bacon (1214-1294) dan kemudian dimantapkan sebagai paradigma ilmiah atas usaha Francis Bacon (1561-1626).  Perkembangan metode eksperimen ini memberi pengaruh penting terhadap cara berpikir manusia sebab dengan demikian dapat diuji berbagai penjelasan teoretis apakah  sesuai dengan kenyataan empiris atau tidak.</p>
<p>Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan ilmu pengetahuan. Dalam metode ilmiah terdapat proses berpikir dan bertanya tentang sesuatu permasalahan yang ingin dicari jawabnya. Karenanya,  pertanyaan-pertanyaan yang secara empiris belum dikenali akan bermunculan dan justru inilah esensi dari penemuan ilmiah yakni bahwa kita mengetahui sesuatu yang belum pernah kita ketahui dalam pengkajian ilmiah sebagai hasil dari kesimpulan yang ditarik. Dengan adanya metode ilmiah ini diharapkan ilmu pengetahuan yang dihasilkan memiliki sifat rasional dan teruji sehingga dapat diandalkan. Untuk mencapai hal itu, metode ilmiah menggabungkan cara berpikir deduktif dan induktif. Berpikir deduktif memberikan sifat yang rasional kepada pengetahuan ilmiah dan bersifat konsisten terhadap pengetahuan yang telah dikumpulkan sebelumnya.</p>
<p>Menurut Ritchie Calder, kegiatan ilmiah dimulai ketika manusia mengamati sesuatu. Dengan proses mengamati maka akan muncul pertanyaan: “Mengapa manusia mengamati sesuatu?” Ternyata kita mulai mengamati objek tertentu kalau kita memang mempunyai perhatian tertentu pada objek tersebut. Perhatian tersebut menurut John Dewey disebut sebagai suatu masalah atau kesukaran yang dirasakan bila kita menemukan sesuatu dalam pengalaman kita yang menimbulkan pertanyaan. Dapat disimpulkan bahwa proses berpikir dimulai karena ditemukannya masalah yang berasal dari dunia empiris. Masalah itu terlahir dalam banyak pertanyaan yang kemudian akan dicari jawabnya dengan proses pengkajian ilmiah. </p>
<p>Dengan perkembangan metode ilmiah dan diterimanya metode ini sebagai paradigma oleh masyarakat keilmuan, maka sejarah mencatat perkembangan ilmu pengetahuan yang begitu pesatnya. Dirintis oleh Copernicus (1473-1543), Kepler (1571-1630), Galileo (1564-1642), dan Newton (1642-1727). Ilmu memperoleh momentumnya pada abad 17 dan kemudian tinggal landas. Whitehead menyebutkan periode antara 1870-1880 sebagai titik kulminasi perkembangan ilmu di mana Helmholtz, Pasteur, Darwin, dan Clerk-Maxwell berhasil mengembangkan penemuan ilmiahnya.  </p>
<p><strong>Sikap kritis mendorong lahirnya Ilmu Pengetahuan(?)</strong><br />
Dalam metode ilmiah pada langkah pertama peneliti diajak untuk merumuskan permasalahan yang berupa pertanyaan. Berangkat dari pertanyaan itu maka penelitian untuk menemukan jawaban ilmiah dimulai. Sebagaimana telah diuraikan panjang lebar di awal, proses bertanya dan menemukan masalah merupakan unsur yang termuat dalam sikap kritis. Dari pertanyaan itu kemudian ada proses berpikir untuk mencari jawab. Proses berpikir dilanjutkan dengan eksperimen sebagai pengujian untuk mendapatakan data empiris. Dan akhirnya ditemukan suatu pengetahuan baru yang nantinya akan ditata secara sistematis dan dibakukan sehingga menjadi suatu ilmu pengetahuan.</p>
<p>Setidaknya ada dua alasan yang mendasari mengapa sikap kritis dirasa masih relevan dalam mendorong berkembangnya ilmu pengetahuan. Pertama, sikap kritis membawa seseorang untuk tidak selalu mudah percaya, tidak mau menerima begitu saja pandangan dan pendapatnya sendiri (kecenderungan yang merupakan ciri dari sikap ilmiah). Ke dua, sikap kritis (mulai dari melihat segala sesuatu sebagai masalah, teka-teki, pertanyaan hingga mencari secara ilmiah-teoretis apa yang menjadi sebab dari masalah itu) yang diperkenalkan dalam metode ilmiah sangat berguna tidak hanya bagi ilmuwan tapi juga siapa saja yang berminat untuk mencari ilmu pengetahuan, khususnya dalam penelitian ilmiah.</p>
<p>Ilmu pengetahuan tidak hanya bersifat puritan-elitis, melainkan juga pragmatis. Dalam pengertian, ilmu pengetahuan tidak berhenti sekedar memuaskan rasa ingin tahu manusia, tetapi juga membantu manusia untuk memecahkan berbagai persoalan hidup yang dihadapi. Pada praktiknya, ilmu pengetahuan memang dibutuhkan untuk menjawab setiap permasalahan dalam hidup sehari-hari, dan tentunya juga selau diharapkan membawa tawaran kemudahan baru bagi manusia untuk menjalani hidup. Karenanya selalu dan terus-menerus dibutuhkan sikap kritis yang membuat ilmu pengetahuan menjadi baru dan semakin relevan dalam menghadapi setiap persoalan, sehingga sekurang-kurangnya ilmu pengetahuan semakin berkontribusi bagi peningkatan kesejahteraan manusia.</p>
<p><strong>Referensi</strong></p>
<p>Keraf, A. Sonny dan Mikhael Dua., <em>Ilmu Pengetahuan Sebuah Tinjauan Filosofis</em>, Yogyakarta: Kanisius, 2001</p>
<p>S. Suriasumantri, Jujun.,<em> Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer</em>, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2005</p>
<p>Strathern, Paul., 90 Menit Bersama Plato, Jakarta: Erlangga, 2001</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tb99.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tb99.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tb99.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tb99.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tb99.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tb99.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tb99.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tb99.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tb99.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tb99.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tb99.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tb99.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tb99.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tb99.wordpress.com/87/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tb99.wordpress.com&amp;blog=10062924&amp;post=87&amp;subd=tb99&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tb99.wordpress.com/2009/10/24/dimulai-dari-bersikap-kritis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d93cbb419a0b6fcdc3b23703b4d58116?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tb99</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Arif Menilai Perdebatan ‘Bebas Nilai’ dalam Ilmu Pengetahuan</title>
		<link>http://tb99.wordpress.com/2009/10/24/arif-menilai-perdebatan-%e2%80%98bebas-nilai%e2%80%99-dalam-ilmu-pengetahuan/</link>
		<comments>http://tb99.wordpress.com/2009/10/24/arif-menilai-perdebatan-%e2%80%98bebas-nilai%e2%80%99-dalam-ilmu-pengetahuan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 03:35:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thian Budiarsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat Ilmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tb99.wordpress.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Kontroversi masalah ‘bebas nilai’ Akhir-akhir ini banyak dijumpai pasangan suami isteri yang sudah puluhan tahun menikah, tetapi belum dikaruniai keturunan datang kepada dokter ahli kandungan (spesialis reproduksi, obstetri, dan ginekologi). Tentunya pasangan suami isteri itu datang dengan membawa impian, setelah keluar dari ruang dokter spesialis kandungan mereka memperoleh alternatif solusi yang membantu mereka agar segera [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tb99.wordpress.com&amp;blog=10062924&amp;post=56&amp;subd=tb99&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kontroversi masalah ‘bebas nilai’</strong><br />
Akhir-akhir ini banyak dijumpai pasangan suami isteri yang sudah puluhan tahun menikah, tetapi belum dikaruniai keturunan datang kepada dokter ahli kandungan (spesialis reproduksi, obstetri, dan ginekologi). Tentunya pasangan suami isteri itu datang dengan membawa impian, setelah keluar dari ruang dokter spesialis kandungan mereka memperoleh alternatif solusi yang membantu mereka agar segera bisa menimang momongan. Alternatif solusi tersebut adalah bayi tabung. </p>
<p>Penemuan metode bayi tabung sebagai solusi bagi para pasangan suami isteri yang menginginkan keturunan di luar cara reproduksi alamiah tersebut memang cukup diterima oleh masyarakat. Para pasangan yang tadinya sulit memperoleh momongan karena kelainan yang terjadi dalam organ reproduksi mereka atau disebabkan faktor usia serta berbagai faktor lainnya, kini bisa memperoleh keturunan melalui proses bayi tabung. Penemuan dalam bidang reproduksi itu pun kemudian disusul dengan penemuan lain yang lebih spektakuler lagi, yakni kloning (<em>reproductive cloning</em>). Dengan <em>reproductive cloning</em>, dimungkinkan adanya proses duplikasi manusia, bahkan dengan disertai motivasi untuk mendapatkan kulitas individu yang sempurna. Namun, untuk penemuan yang terakhir itu, masih tersisa kontoversi yang menyertainya.</p>
<p>Dalam sebuah kuliah umum yang berbicara tentang perkembangan teknik reproduksi buatan yang ditinjau dari kaca mata etika dan hukum, disampaikan sebuah ilustrasi yang menggambarkan fenomena futuristik yang mungkin terjadi 1 abad, 50 tahun, atau mungkin bahkan hanya dalam waktu 10 tahun yang akan datang. “Nantinya telah dibuka ‘mall genetics sebagai bentuk perseroan (bisnis), minimal dalam bentuk kooperasi kedokteran (badan usaha), untuk merangkai kesempurnaan genetik, sebagai ekspresi genetik pesanan bagi bayi yang diidamkan oleh seorang ‘gadis’, atau seorang ‘pemuda’, sebagi ‘<em>single parent</em>’, sebagai ekspresi kasih sayang manusia di abad itu.” (Moeloek, F.A, &#8220;Etika dan Hukum Teknik Reproduksi Buatan&#8221;, disampaikan pada Kuliah Umum Temu Ilmiah I Fertilitas Endokrinologi Reproduksi, Bandung, 4-6 Oktober 2002). Ilustrasi tersebut ingin mengatakan bahwa dengan perkembangan sains dan teknologi dalam ranah ilmu pengetahuan bukan tidak mungkin apa yang sebelumnya tak pernah dipikirkan manusia dalam masalah yang selama ini dianggap sebagai urusan Yang Kuasa semata, nantinya bisa menjadi kenyataan. Saat ini kloning masih menjadi kontroversi, entah bagaimana nanti yang terjadi di tahun 2020. Keniscayaan teknik reproduksi yang semakin canggih karena berkembangnya ilmu pengetahuan bisa jadi tidak akan sekedar menjadi wacana.</p>
<p>Dengan penemuan-penemuan yang begitu spektakuler dan fenomenal, ilmu pengetahuan memang semakin menemukan jati dirinya. Namun, nilai lain tidak bisa dimungkiri berpotensi pula mencampuri otonomi ilmu pengetahuan itu sendiri. Moralitas, etika, dan hukum yang berlaku dalam konteks sosial dan berkembang dalam kehidupan publik mau tidak mau ikut mewarnai perkembangan ilmu pengetahuan, meskipun intervensi tersebut telah diminimalisir. Terkait dengan hal itu, perdebatan yang selalu menarik dalam membicarakan ilmu pengetahuan dan kontroversi setiap penemuan yang dilahirkannya adalah masalah ‘bebas nilai.’ Di satu sisi ilmu pengetahuan hendak berkembang secara independen, dengan tanpa memerhatikan nilai lain di luar dirinya. Namun, di sisi lain tidak bisa dielakkan ada nilai tertentu yang menyertai perkembangannya (politik, religius, maupun moral). Hingga akhirnya perdebatan tentang ‘bebas nilai’ dalam ilmu pengetahuan dirasa sia-sia karena pada faktanya ilmu pengetahuan itu sendiri terbebani oleh nilai-nilai yang menyertainya pada zaman dan konteks berlembangnya ilmu pengetahuan itu sendiri. Dalam kasus ini, kloning menjadi salah satu contohnya. Kontroversi yang mencakup nilai moral, etika, serta hukum di dalamnya menjadi satu bukti nyata yang mengerucut pada relevansi bebas nilai dalam ilmu pengetahuan.<br />
<strong><br />
Tinjauan teoretis masalah ‘bebas nilai’ dalam ilmu pengetahuan</strong><br />
Sejak saat pertumbuhannya, ilmu sudah terkait dengan masalah moral. Ketika Copernicus (1473-1543) mengajukan teorinya tentang kesemestaan alam dan menemukan bahwa &#8220;bumi yang berputar mengelilingi matahari&#8221; dan bukan sebaliknya seperti yang dinyatakan dalam ajaran agama maka timbullah interaksi antara ilmu dan moral (yang bersumber pada ajaran agama) yang berkonotasi metafisik. Secara metafisik ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana adanya, sedangkan di pihak lain terdapat keinginan agar ilmu mendasarkan kepada pernyataan-pernyataan (nilai-nilai) yang terdapat dalam ajaran-ajaran di luar bidang keilmuan (nilai moral), seperti agama. Dari interaksi ilmu dan moral tersebut timbullah konflik yang bersumber pada penafsiran metafisik yang berkulminasi pada pengadilan inkuisisi Galileo pada tahun 1633. Galileo oleh pengadilan agama dipaksa untuk mencabut pernyataan bahwa bumi berputar mengelilingi matahari (Sumantri, 2001:233). </p>
<p>Kilasan sejarah yang mengangkat penemuan teori heliosentris itu menjadi contoh kedua setelah kloning, yang menyinggung tentang masalah bebas nilai ilmu pengetahuan. Dalam hal ini Galileo menjadi tokoh yang “dikorbankan” demi suatu upaya pemurnian jati diri ilmu pengetahun. Nilai moral (otoritas agama), telah mencampuri wilayah ilmiah ilmu pengetahuan untuk menemukan suatu kebenaran dari data empiris yang digalinya.</p>
<p>Bebas nilai diartikan sebagai tuntutan bagi ilmu pengetahuan agar ilmu pengetahuan dikembangkan tanpa memerhatikan nilai-nilai lain di luar ilmu pengetahuan. Dengan kata lain ilmu pengetahuan dikembangkan hanya demi ilmu pengetahuan, karena itu ilmu pengetahuan tidak boleh dikembangkan berdasar pada pertimbangan lain di luarnya. Jadi, ilmu pengetahuan harus dikembangkan semata-mata berdasarkan pertimbangan ilmiah murni.</p>
<p>Yang perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa tuntutan bebas nilai bagi ilmu pengetahuan itu sendiri sebenarnya tidak mutlak. Tuntutan bebas nilai hanya berlaku bagi nilai lain di luar nilai yang menjadi taruhan utama ilmu pengetahuan. Artinya, ilmu pengetahuan tetap peduli terhadap nilai tertentu pada diri ilmu pengetahuan itu sendiri, yaitu nilai kebenaran dan nilai kejujuran.</p>
<p>Sekurang-kurangnya ada dua tujuan yang hendak dicapai dari pemberlakuan tuntutan agar ilmu pengetahuan dikembangkan tanpa memerhatikan nilai-nilai lain di luar ilmu pengetahuan. Tujuan tersebut adalah:<br />
<em>a.	Agar ilmu pengetahuan tidak mengalami distorsi.</em><br />
Distorsi ilmu pengetahuan bisa terjadi jika ilmu pengetahuan tunduk pada pertimbangan lain (politik, religius, maupun moral) di luar ilmu pengetahuan itu sendiri. Dengan tunduk pada pertimbangan lain, ilmu pengetahuan tidak bisa berkembang secara otonom. Itu berarti ilmu pengetahuan menjadi tidak murni sama sekali.</p>
<p><em>b.     Agar ilmu pengetahuan dikembangkan hanya demi kebenaran saja.</em><br />
Latar belakangnya adalah apabila ilmu pengetahuan tidak bebas dari nilai-nilai lain di luar ilmu pengetahuan, kebenaran sangat mungkin dikorbankan demi nilai lain itu.</p>
<p>Dihadapkan dengan masalah moral dalam menghadapai ekses ilmu dan teknologi yang bersifat merusak para ilmuwan terbagi ke dalam dua golongan pendapat. Ilmuwan golongan pertama menginginkan bahwa ilmu harus bersifat netral terhadap nilai-nilai, baik itu secara ontologis maupun aksiologis. Dalam tahap ini tugas ilmuwan adalah menemukan pengetahuan dan terserah kepada orang lain untuk mempergunakannya, terlepas apakah pengetahuan itu dipergunakan untuk tujuan baik ataukah untuk tujuan yang buruk. Ilmuwan golongan kedua sebaliknya berpendapat bahwa netralitas ilmu terhadap nilai-nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan, sedangkan dalam penggunaannya kegiatan keilmuan haruslah berlandaskan pada asas-asas moral. Golongan kedua mendasarkan pendapatnya pada beberapa hal, yakni, (1) ilmu secara faktual telah dipergunakan secara destruktif oleh manusia yang dibuktikan dengan adanya dua perang dunia yang mempergunakan teknologi-teknologi keilmuan; (2) ilmu telah berkembang dengan pesat dan makin esoterik sehingga kaum ilmuwan lebih mengetahui tentang ekses-ekses yang mungkin terjadi bila terjadi salah penggunaan; dan (3) ilmu telah berkembang sedemikian rupa sehingga terdapat kemungkinan bahwa ilmu dapat mengubah manusia dan kemanusiaan yang paling hakiki seperti pada kasus revolusi genetika dan teknik perubahan sosial. Berdasarkan ketiga hal itu maka golongan kedua berpendapat bahwa ilmu secara moral harus ditujukan untuk kebaikan manusia tanpa merendahkan martabat atau mengubah hakikat kemanusiaan (Sumantri, 2001:234).</p>
<p><strong>Relevansi masalah ‘bebas nilai’ dalam ilmu pengetahuan</strong><br />
Untuk menengahi perdebatan tentang permasalahan ‘bebas nilai,’ terdapat satu tawaran sintesis yang di dalamnya mencoba membedakan antara <em>context of discovery</em> dan <em>context of justification</em>.</p>
<p><em>Context of discovery</em> menyangkut konteks di mana ilmu pengetahuan ditemukan. Yang mau dikatakan di sini adalah bahwa ilmu pengetahuan tidak terjadi, ditemukan, dan berlangsung dalam kevakuman. Ilmu pengetahuan selalu ditemukan dan berkembang dalam konteks ruang dan waktu tertentu, dalam konteks sosial tertentu. Termasuk di dalamnya adalah kenyataan bahwa ilmu pengetahuan muncul dan berkembang demi memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi manusia. Jadi, ilmu pengetahuan tidak muncul mendadak begitu saja. Ada konteks tertentu yang melahirkannya. Oleh karena itu, tidak bisa disangkal bahwa dalam melakukan kegiatan ilmiahnya, ilmuwan dimotivasi oleh keinginan, baik itu bersifat personal maupun kolektif, untuk mencapai sasaran dan tujuan yang lebih luas dari sekedar kebenaran ilmiah murni. Dengan kata lain, ada banyak faktor yang jauh lebih luas dari sekedar faktor murni ilmiah, yang ikut mendorong lahirnya ilmu pengetahuan. Tidak bisa disangkal pula bahwa ilmu pengetahuan berkembang dalam konteks tertentu yang sekaligus sangat ikut memengaruhinya. Berkaitan dengan ini, sulit dibayangkan bahwa ilmu pengetahuan bebas dari nilai-nilai baik itu yang dianut oleh setiap ilmuwan secara individual maupun yang dianut oleh setiap lembaga dan masyarakat di mana ilmu pengetahuan itu dikembangkan.</p>
<p>Sedangkan yang dimaksud dengan <em>context of justification</em> adalah konteks pengujian ilmiah terhadap hasil penelitian dan kegiatan ilmiah. Inilah konteks di mana kegiatan ilmiah dan hasil-hasilnya diuji berdasarkan kategori dan kriteria yang murni ilmiah. Di mana yang berbicara adalah data dan fakta apa adanya serta keabsahan metode ilmiah yang dipakai tanpa mempertimbangkan kriteria dan pertimbangan lain di luar itu. Jadi, satu-satunya yang dipertimbangkan adalah bukti empiris dan penalaran logis – rasional dalam membuktikan kebenaran suatu hipotesis atau teori. Dengan kata lain, satu-satunya nilai yang berlaku dan diperhitungkan adalah nilai kebenaran. </p>
<p>Kesimpulan dari sintesis ini adalah bahwa dalam <em>context of discovery</em> ilmu pengetahuan tidak bebas nilai, tetapi dalam <em>context of justification</em>, ilmu pengetahuan harus bebas nilai. <em>Dalam context of discovery</em> ilmu pengetahuan mau tidak mau peduli akan berbagai nilai lain di luar ilmu pengetahuan. Namun, dalam <em>context of justification</em>, satu-satunya yang menentukan adalah benar tidaknya hipotesis atau teori itu berdasarkan bukti-bukti empiris dan penalaran logis yang bisa ditunjukkan.</p>
<p>Kemudian untuk menempatkan kasus kloning dalam posisi yang tepat (terkait dengan masalah ‘bebas nilai’), ada baiknya digunakan sintesis tersebut. Apabila dibaca dengan <em>context of justification</em>, penemuan teknik reproduksi buatan, dalam kasus ini kloning, memang berada posisi yang tepat secara ilmiah. Eksistensinya sebagai hasil penemuan ilmiah tidak bisa diganggu gugat. Namun, ketika kita menggunakan <em>context of discovery</em> untuk membaca kasus ini, kesimpulan yang didapat akan lain. Dalam <em>context of discovery</em>, kloning menjadi penemuan yang tidak lagi perlu dikembangkan lebih lanjut karena hasilnya dianggap merendahkan martabat manusia. Dilihat dari aspek utiliter, kloning sama sekali tidak berkontribusi bagi kehidupan manusia yang lebih bermartabat.</p>
<p>Apabila dihubungkan dengan pembagian golongan ilmuwan sebagaimana telah dibahas di atas, <em>context of justification</em> dianut oleh ilmuwan golongan pertama yang menginginkan agar ilmu harus bersifat netral terhadap nilai-nilai, baik itu secara ontologis maupun aksiologis. Ilmuwan ini memiliki kecenderungan puritan-elitis. Sedangkan ilmuwan golongan kedua menganut <em>context of discovery</em>. Kecenderungan ilmuwan golongan kedua adalah kecenderungan pragmatis yang masih memikirkan nilai guna suatu ilmu. Mereka  berpendapat bahwa ilmu secara moral harus ditujukan untuk kebaikan manusia tanpa merendahkan martabat atau mengubah hakikat kemanusiaan.</p>
<p>Lalu, apakah perdebatan tentang masalah ‘bebas nilai’ dalam ilmu pengetahuan itu tetap relevan untuk dibicarakan? Jawabannya adalah masih. Jawaban ini tentu disertai oleh alasan yang mendukung. Alasan pertama adalah, tuntutan ‘bebas nilai’ dalam ilmu pengetahuan memiliki tujuan yang harus senantiasa dijaga dan dijunjung dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Dengan itu ilmu pengetahuan tetap otonom dan murni ilmiah. Harapannya, ilmu pengetahuan tidak serta merta bisa dijadikan alat bagi pihak tertentu yang ingin melegitimasikan otoritas demi kepentingannya semata. Kedua, perdebatan tentang ‘bebas nilai’ dalam ilmu pengetahuan itu perlu dilihat sebagai upaya <em>check and balances</em>, yang bisa ditinjau dengan sintesis <em>context of discovery</em> maupun <em>context of justification</em>. Hal ini dimaksudkan untuk menggugah kesadaran ilmuwan agar tidak sekedar mengembangkan ilmu pengetahuan yang bersifat destruktif, tetapi juga tetap memerhatikan aspek utiliter ilmu pengetahuan itu sendiri. Hal tersebut tidak dimaksudkan untuk membatasi otonomi ilmu pengetahuan, hanya untuk menegaskan bahwa kebenaran memang harus diwujudkan, tapi apakah perlu, tentunya itu dikembalikan kepada para ilmuwan sendiri.</p>
<p><strong><br />
Referensi</strong></p>
<ul>
Keraf, A. Sonny dan Mikhael Dua, 2001, <em>Ilmu Pengetahuan Sebuah Tinjauan Filosofis</em>, Yogyakarta: Kanisius
</ul>
<ul>
Suriasumantri, Jujun S., 2002, <em>Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer</em>. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan</p>
<p>http://www.pusatbahasa.depdiknas.go.id/showpenuh.php?info=artikel&#038;actionTree=open&#038;id=1&#038;infocmd=show&#038;infoid=41&#038;row=2</p>
<p>http://www.litbang.depkes.go.id/ethics/knepk/download%20dokumen/artikel%20&#038;%20paper/human%20cloning.pdf</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tb99.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tb99.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tb99.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tb99.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tb99.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tb99.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tb99.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tb99.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tb99.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tb99.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tb99.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tb99.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tb99.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tb99.wordpress.com/56/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tb99.wordpress.com&amp;blog=10062924&amp;post=56&amp;subd=tb99&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tb99.wordpress.com/2009/10/24/arif-menilai-perdebatan-%e2%80%98bebas-nilai%e2%80%99-dalam-ilmu-pengetahuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d93cbb419a0b6fcdc3b23703b4d58116?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tb99</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anne Avantie dalam Memoar Metamorfosa</title>
		<link>http://tb99.wordpress.com/2009/10/24/anne-avantie-dalam-memoar-metamorfosa/</link>
		<comments>http://tb99.wordpress.com/2009/10/24/anne-avantie-dalam-memoar-metamorfosa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 02:20:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thian Budiarsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tb99.wordpress.com/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Sianne Avantie. Itulah nama kecil seorang ikon kebaya Indonesia yang kemudian lebih dikenal dengan nama Anne Avantie. Buah karya tangan desainer ini sangat terilhami oleh kekuatan keindahan yang terlahir dari talenta luar biasa. Meretas Jalan Hidup Karier perancangan busana seorang “Anne Avantie masa kini” terajut oleh perjalanan jatuh bangun yang cukup panjang. Berawal dari ketertarikannya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tb99.wordpress.com&amp;blog=10062924&amp;post=42&amp;subd=tb99&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Sianne Avantie. Itulah nama kecil seorang ikon kebaya Indonesia yang kemudian lebih dikenal dengan nama Anne Avantie. Buah karya tangan desainer ini sangat terilhami oleh kekuatan keindahan yang terlahir dari talenta luar biasa.</em></p>
<p><strong>Meretas Jalan Hidup</strong><br />
Karier perancangan busana seorang “Anne Avantie masa kini” terajut oleh perjalanan jatuh bangun yang cukup panjang. Berawal dari ketertarikannya menyiapkan kostum tari dan pertunjukan semasa SMA, ia mulai memantapkan diri untuk menekuni modiste. Namun, di usia 19 tahun ketika ia menikah muda, guncangan hidup sempat menundukkannya. Dalam kondisi ekonomi yang serba sulit dan di tengah biduk rumah tangga yang rapuh, Anne harus berjuang melawan kekoyakan perkawinannya. </p>
<p>Ia mempunyai seorang puteri dari buah perkawinannya. Namun, perkawinan yang hambar oleh siraman cinta itu pun harus kandas. Anne mulai berjuang membesarkan puterinya seorang diri. Cobaan pun datang kembali. Ayah Anne yang selama ini merupakan figur penopang kehidupan ibu dan kedua adiknya, meninggal dunia. </p>
<p>Setiap hari Anne berjualan jajanan dan manisan mangga yang ia titipkan di kantin-kantin sekolah. Demikanlah ritme hidupnya sehari-hari hanya digerakkan oleh harapan untuk mengais nasi. Sungguh ironis. Di masa kecil hingga remaja ketika masih tinggal di Solo, Anne sangat menikmati kehidupan yang berkecukupan. Dan di usianya yang masih 20-an ketika itu, ia justru berjuang dengan alasan yang sungguh miris: untuk makan. Tangan terampil dan keliaran kreativitas dalam mengolah kain pun tak teringat lagi. Bayangan keasikan membuat kostum seolah menguap dan terbang. </p>
<p>Namun, kerja kerasnya membuat keripik singkong pedas dan kacang goreng mulai meretas jalan hidupnya. Melewati cobaan yang bertubi, pribadi Anne Avantie semakin kokoh. Kemudian ia  menemukan sosok pria yang diyakini akan menjadi teman dalam mengarungi perjalanan panjangnya. Dalam suasana yang penuh kesahajaan nan khidmat, Anne dan Henry saling menerimakan sakramen pernikahan di Gereja Katedral Semarang.</p>
<p>Berbekal kekuatan cinta, mereka membangun bahtera rumah tangga. Aura bahagia dan harmoni terasa.  Henry yang berasal dari keluarga bisnis mulai memandu bakat kreatif Anne menjadi sebuah ladang  usaha. Mereka mencoba menguak peluang untuk memproduksi pernak-pernik cinderamata. Bentuknya beraneka macam, berupa dompet, buku agenda, gantungan kunci, serta kipas. Produk kreatif Anne itu rencananya akan dijual ke perusahaan-perusahaan ekspor kerajinan. Namun, usaha ini dirasa kurang prospektif. Selain karena animo pasar yang kurang bagus, jumlah pesaing yang bermain di usaha ini juga sudah banyak.</p>
<p><strong>Metamorfosa Seorang Desainer</strong><br />
Kemudian Anne mulai menghidupkan kembali aktivitasnya membuat busana. Bermodal dua mesin jahit bekas tanpa dinamo dan memanfaatkan garasi rumahnya, Anne membuka usaha modiste kecil. Ia menamainya Griya Busana Permata Sari. Waktu itu Griya Busana Permata Sari memilih untuk memproduksi busana panggung ukuran all size. Berkah pun menghampiri. Sebuah grup tari kondang, Andromedys Dance, meminta Anne untuk membuat rancangan busana panggung mereka.</p>
<p>Atraksi panggung luar biasa Andromedys Dance sontak mengibarkan nama Anne Avantie sebagai sosok yang sangat berperan atas busana yang mereka kenakan. Pelanggan lain berbondong-bondong mulai berdatangan. Kepercayaan akan keindahan busana yang Anne hasilkan mulai terbangun.</p>
<p>Anne mulai memberanikan diri mengikuti show kecil-kecilan. Spanduk Griya Busana Permata Sari terpampang jelas di depan gedung rollskate yang menjadi arena show di Semarang waktu itu. Show kecil pertama itu pun mengantar Anne menuju ke show-show besar selanjutnya. Anne semakin optimis mengikuti ajang show Persatuan Perancang Mode Jawa Tengah. Seorang Anne Avantie, pemilik modiste kecil itu mulai disebut sebagai “Desainer”. Liputan media massa dalam ajang show itu membuat nama Anne Avantie semakin dikenal dan ia mulai kebanjiran order.</p>
<p>Opa Anne menghadiahinya sebuah gerai di Citraland Mall Semarang. Suami dan ibunda Anne kemudian menata gerai itu menjadi sebuah butik yang sangat artistik. Butik inilah yang menjadi tempat Anne belajar menghadapi klien dan bersikap lebih profesional. Ia berusaha membangun brand image secara pasti dan baik. Berbagai tuntutan, keluhan, serta aduan klien atas produk harus didengarkan dan disikapi dengan bijak.</p>
<p>Anne menyadari bahwa pelanggan yang datang ke butiknya memang tahu seluk beluk pembuatan busana dan memiliki cita rasa seni tinggi. Dari proses itulah ia banyak belajar menjadi seorang desainer yang mumpuni. Mengenai butiknya itu, Anne bertutur demikian: ”Ternyata tidak mudah menggulirkan sebuah butik. Sungguh pun butik saya telihat mentereng dengan gaun-gaun indah di dalamnya, tantangan yang saya hadapi luar biasa beratnya!”</p>
<p>Di tengah perjuangan membangun kariernya cobaan tetap datang memantapkan langkah kaki Anne ke jalan yang semakin pasti. Ia sempat masuk dalam perangkapnya sendiri dan hampir jatuh ke lubang terdalam. Kebangkrutan ekonomi menghantui Anne dan keluarganya. Belum rampung penderitaan karena tumbangnya kekuatan ekonomi yang Anne bangun dari bawah, ibunda yang selama ini merupakan sosok penting dalam hidupnya jatuh sakit.</p>
<p>Lagi-lagi Anne terseok. Dengan sisa tabungan yang ada, sembari berusaha mengumpulkan rezeki dari jualan dawet durian dan nasi liwet, Anne membawa ibunya berobat ke Singapura. Berkat usaha yang luar biasa dan iman yang semakin teruji, akhirnya ibunda bisa sembuh kembali. Hantaman ekonomi dan penyakit sang ibu datang silih berganti membentuk pribadi dan kedalaman iman seorang Anne Avantie.</p>
<p><strong>Lahirnya Ikon Kebaya Indonesia</strong><br />
Dalam situasi ekonomi yang serba sulit Anne tetap mempertahankan butiknya. Ia berpikir butik itulah yang bisa menjadi keran penghasilan utama untuk menghidupi keluarganya. Dan ketika masih bergulat dengan kenyataan pahit yang berhasil ia lewati, inspirasi untuk masa depan datang dengan begitu jernih.</p>
<p>Anne harus memberanikan diri mengakhiri bisnis gaun malam yang selama ini digeluti. Ia memutuskan beralih pada busana kebaya. Baginya kebaya adalah simbol dari kelembutan dan ketangguhan perempuan. Peralihan itu jelas membawa suatu perubahan besar. Koleksi busana malam di butik, modiste, dan para klien yang Anne miliki bagaimana pun merupakan aset yang besar. Namun, keyakinan dan ketetapan hati merapuhkan keraguannya untuk terus melangkah.</p>
<p>Kemudian ia mulai belajar keras tentang ragam kebaya nasional, bagaimana membuat sketsa desain dasar kebaya, serta berlatih mencipta karya yang lebih atraktif tanpa harus meninggalkan jiwa murni kebaya. Sedikit demi sedikit koleksi gaun malam di butiknya berkurang. Niat dan jiwanya ia curahkan sepenuhnya pada keliaran kreativitas dalam karya kebaya yang benar-benar mempunyai roh.</p>
<p>”Tiap lekukan yang ada pada siluet kebaya saya pahami sebagai lahan eksperimen bagi imajinasi saya yang diperkuat oleh impian,” demikian Anne berujar mengenai pengalaman awalnya berkenalan dengan kebaya. Kreativitas merancang busana yang telah ia asah sejak remaja mulai menunjukkan buahnya. Banyak orang terkesan dengan karya kebaya buah tangan Anne yang mempunyai kekhasan dan dapat membentuk image tersendiri. </p>
<p>Lahirlah kebaya ala Anne Avantie. Rupa-rupanya animo masyarakat terhadap kebaya itu cukup tinggi. Keliaran ide dalam mencipta karya kebaya yang atraktif dan unik membuat banyak pihak semakin tertarik. Butik yang selama ini sangat bernuansa Eropa dengan etalase gaun malamnya, Anne poles sehingga lebih kental dengan napas etnik. Mannequin etalase ia hiasi dengan koleksi kebaya terbaiknya. Pengunjung butik pun banyak yang memperlihatkan ketertarikan yang besar. Tidak sekedar tertarik, mereka berani memutuskan untuk membeli meski harganya tidak bisa dibilang murah. </p>
<p>Brand “Kebaya Anne Avantie” perlahan terbangun. Anne juga semakin giat mengikuti show dan pameran busana di Solo, Jogja, dan Semarang. Melihat prospek usaha yang menggembirakan itu, oleh teman-teman dekatnya ia didorong untuk mengepakkan sayap ke Jakarta. Sebelum menggapai impian itu, ia mendisiplinkan diri untuk berbenah. Hasilnya, show busana kebaya Anne Avantie berhasil tergelar di sebuah hotel di Semarang dengan bintang tamu Maudy Kusnaedy.</p>
<p>Pada tahun 2001 publik semakin mengakui eksistensi Anne Avantie sebagai seorang ‘desainer’. Rancangan kebaya asimetris yang dikenakan Alya Rohali dalam sebuah acara show menjadi tren di kalangan pecinta mode. Kebaya asimetris dengan bentuk leher berbeda kanan kirinya itu ternyata semakin digandrungi banyak orang.</p>
<p>Fase demi fase Anne jalani dengan ketekunan dan kemantapan hati. Rancangan busana kebaya membawanya pada bentangan kreativitas dan peluang. Kalau pada awalnya ia hanya sebagai peserta dalam ajang lomba rancangan busana, kini Anne mulai dipercaya menjadi juri.<br />
Kematangan karakter dan kemampuan bisnis yang telah tertempa mengobarkan keberanian Anne untuk memperluas jaringan ke Jakarta. Kesempatan menjemput impian. Pada 2002 nama Anne Avantie berkibar di kalangan publik nasional. Waktu itu ia mensponsori acara ‘Kencan Irex’ yang dipandu oleh Dorce Gamalama.</p>
<p>Sorotan kamera jeli menggambarkan detail karya kebaya Anne. Terlihat mengagumkan. Dunia Entertainment dan media massa kait-mengkait secara alami membawa Anne pada deretan desainer yang diakui di kancah fesyen Indonesia. Acara demi acara semakin banyak mempertunjukkan wardrobe rancangannya. Para pejabat negara, kalangan artis, serta pecinta mode pun berani mengakui keindahan kebaya ala Anne Avantie.</p>
<p>Ketika Indonesia mengikutsertakan Artika Sari Devi dalam ajang pemilihan Miss Universe, Anne Avantie jugalah yang dipercaya sebagai perancang kebayanya. Pada tahun yang sama, Anne juga mengukir prestasi lain. Ia mendapat gelar Perancang Favorit pembaca Majalah DEWI dan anugerah Kartini Award dari Ibu Negara, Ibu Ani Yudhoyono.</p>
<p>Demikianlah karier perancangan busana seorang Anne Avantie terajut oleh air mata, keraguan, senyum, dan harapan. Namun, dari hari ke hari ia semakin terbentuk sebagai pribadi yang luar biasa. Pantaslah apabila predikat ’Ikon Kebaya Indonesia’ disandang olehnya. Ia tidak sekedar mengungkapkan kisahnya dari sisi siluet, payet atau pun brokat, tetapi benar-benar menghadirkan itu dalam ziarah perenungan yang penuh makna. Akhirnya, terciptalah ’Kebaya Anne Avantie’ yang benar-benar lahir dari kemurnian rasa dalam mencipta sebuah karya. </p>
<p>		Disarikan dari: <strong><em>ANNE AVANTIE ”Aku Anugerah Dan Kebaya”</em></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tb99.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tb99.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tb99.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tb99.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tb99.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tb99.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tb99.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tb99.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tb99.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tb99.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tb99.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tb99.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tb99.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tb99.wordpress.com/42/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tb99.wordpress.com&amp;blog=10062924&amp;post=42&amp;subd=tb99&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tb99.wordpress.com/2009/10/24/anne-avantie-dalam-memoar-metamorfosa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d93cbb419a0b6fcdc3b23703b4d58116?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tb99</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Antara Kabut dan Tanah Basah sebuah Puncta</title>
		<link>http://tb99.wordpress.com/2009/10/24/antara-kabut-dan-tanah-basah-sebuah-puncta/</link>
		<comments>http://tb99.wordpress.com/2009/10/24/antara-kabut-dan-tanah-basah-sebuah-puncta/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 02:03:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thian Budiarsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tb99.wordpress.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Inspirasi Kecil dari Rm. BB. Triatmoko, SJ “Seperti tanah basah yang mengandung kesuburan dan pertumbuhan, jiwa manusia mencari dalam keremangan kabut kesadarannya tentang jati dirinya, mengapa dia dilahirkan ke dunia.” (Antara Kabut dan Tanah Basah, hlm. 5) “Kesadaran jiwa bisa membawa berkat atau kutuk bagi dirinya. Awal perjalanan adalah untuk membiarkan kerinduan jiwa akan makna [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tb99.wordpress.com&amp;blog=10062924&amp;post=22&amp;subd=tb99&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Inspirasi Kecil dari Rm. BB. Triatmoko, SJ</strong></em></p>
<p>“Seperti tanah basah yang mengandung kesuburan dan pertumbuhan, jiwa manusia mencari dalam keremangan kabut kesadarannya tentang jati dirinya, mengapa dia dilahirkan ke dunia.” (Antara Kabut dan Tanah Basah, hlm. 5)</p>
<p>“Kesadaran jiwa bisa membawa berkat atau kutuk bagi dirinya. Awal perjalanan adalah untuk membiarkan kerinduan jiwa akan makna mengarahkan seluruh kesadarannya. Kerinduan setiap jiwa adalah unik. Kita mencintai orang-orang yang berbeda, berlutut di depan altar yang berbeda, meratap di muka nisan yang berbeda. Namun pada akhirnya ujung perjalanan adalah sama. Kita ingin bahagia dan hidup penuh makna.” (Antara Kabut dan Tanah Basah, hlm. 13)</p>
<p>“Manusia dilahirkan dengan kemampuan untuk memilih. Dia tidak bisa memilih hidup atau mati seturut kehendaknya sendiri. Namun, dia bisa memilih bagaimana dia akan hidup dan bagaimana dia akan mati.” (Antara Kabut dan Tanah Basah, hlm. 16)</p>
<p>“Setiap makhluk ada di dunia bukan karena kebetulan. Masing-masing memiliki cerita yang harus diselesaikan.”</p>
<p>“Setiap manusia dilahirkan dengan kekuatan ilahi di dalam dirinya. Tetapi terlalu banyak orang disilaukan oleh cahaya ilahi itu dan ingin menguasainya untuk dirinya sendiri. Mereka membuat benteng-benteng berkubu untuk memaksa kekuatan ilahi itu supaya tidak meninggalkan dirinya dan menyisakan kekosongan yang menyakitkan. Bukan kekosongan itu yang menghancurkan, tetapi ketakutannya sendiri yang membelenggunya.”</p>
<ul><em>Menjaga pikiran&#8230;.be aware!</em><br />
“Dia terlalu tegang memikirkan apa yang ingin dicapainya sehingga tidak memperhatikan keadaan sekelilingnya. Kini dia baru menyadari keindahan hutan yang mereka lewati. Sebelumnya dia selalu tergoda untuk menciptakan dunia di luar dirinya dengan kekuatan pikirannya” (Antara Kabut dan Tanah Basah, hlm. 28)</p>
</ul>
<p> <em>Lukaku itu akan sembuh&#8230;!!!</em><br />
“Alam memiliki kekuatan untuk menyembuhkan dirinya. Bersama dengan berjalannya waktu, luka-luka lama akan mengering dan menjadi dasar suatu pertumbuhan yang siap menghadapi badai baru yang akan datang.” (Antara Kabut dan Tanah Basah, hlm. 30)</p>
<ul><em>Kebosanan dan kesombongan&#8230;. dua musuh jiwa yang harus diwaspadai!</em><br />
“Kebosanan akan menarik jiwa dari segala keterlibatan dan mengurungnya dengan jerat yang sulit ditembus. Kesombongan menutupi mata jiwa sehingga jiwa tidak bisa lagi mengenali siapa dirinya sesungguhnya.” (Antara Kabut dan Tanah Basah, hlm. 31).<br />
“Mereka menggunakan racun yang sama, yakni yang membuat jiwa beranggapan bahwa dirinya adalah yang terpenting dari segalanya.” (Antara Kabut dan Tanah Basah, hlm. 32)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tb99.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tb99.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tb99.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tb99.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tb99.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tb99.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tb99.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tb99.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tb99.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tb99.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tb99.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tb99.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tb99.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tb99.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tb99.wordpress.com&amp;blog=10062924&amp;post=22&amp;subd=tb99&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tb99.wordpress.com/2009/10/24/antara-kabut-dan-tanah-basah-sebuah-puncta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d93cbb419a0b6fcdc3b23703b4d58116?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tb99</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
