membaca, diskusi, dan menulis untuk membentuk diri menjadi makhluk berbudi

Latest

Bangkit dan Bergeraklah! (Refleksi Orang Muda Katolik)

Menilik Karakter Mahasiswa Katolik Masa Kini

Dalam sebuah kesempatan rapat tim misa Wisma Drijarkara, pernah muncul celetukan menyangkut arti kebangkitan nasional. Waktu itu teman-teman mahasiswa yang tergabung dalam tim misa mencoba merumuskan tema perayaan ekaristi yang kebetulan dekat dengan momentum hari kebangkitan nasional. Celetukan yang sempat mengagetkan itu muncul ketika pertanyaan spontan mengenai arti kebangkitan nasional tidak dapat dijawab oleh teman-teman mahasiswa. Bahkan disebutkan pula bahwa peristiwa kebangkitan nasional yang setiap tanggal 20 Mei diperingati berlalu begitu saja. Teman-teman mahasiswa juga merasa tidak mempunyai roh dan ternyata tidak begitu paham esensi peringatan kebangkitan nasional. Ironis sekaligus memprihatinkan.

Berbicara tentang arti kebangkitan nasional bagi mahasiswa Katolik tidak bisa lepas dari persoalan mengenai siapa mahasiswa Katolik itu sendiri. Apa yang dialami teman-teman tim misa, menjadi sebuah potret kecil yang menggambarkan siapa mahasiswa Katolik masa kini pada umumnya. Sebagian ada yang sudah mulai kurang peduli terhadap apa yang terjadi di luar persoalan pribadi mereka sebagai seorang muda, tetapi bersyukur pula rupanya masih ada segelintir teman-teman mahasiswa Katolik yang mau ikut prihatin ketika persoalan di negara ini begitu sesak mendera kaum tertindas. Dua karakter kontras mahasiswa Katolik yang tersebut di atas dicoba untuk diperlawankan lagi agar lebih mudah ditelaah.

Dari pengamatan terbatas untuk melihat dan mencoba mengenal karakter mahasiswa Katolik di kampus, muncul dua karakter atau mungkin lebih tepat disebut kecenderungan yang  tercuat dari pribadi mahasiswa Katolik masa kini.

Pertama, mahasiswa Katolik yang merasa sangat terpuaskan ketika mampu eksis dalam peer group mereka. Mau menjadi follower yang rela memuja idola, bahkan make over penampilan untuk sekedar “mirip” sang ‘Idol’. Mereka, mahasiswa Katolik yang demikian kalau boleh diistilahkan menjadi Generasi ”Idol” yang nyaman dalam situasi berikut ini:

  • lebih suka hang out bareng teman-teman entah ke mall, tempat nongkrong, atau sekedar ’kongko-kongko’
  • mereka biasa punya peer group (dalam istilah Sosiologi bisa disebut Klik atau lebih ekstrem lagi Geng) dan sangat menghargai jalinan pertemanan
  • relatif loyal terhadap kelompok mereka (bersifat groupies)
  • kuliah lebih dilihat sebagai kewajiban untuk menyenangkan orang tua, alhasil sering cabut, tidak mengerjakan tugas dengan optimal, prestasi belajar pas-pasan. Dorongan kuliah masih dominan timbul dari faktor eksternal (orang tua, peraturan, lingkungan)
  • yang menjadi buronan adalah semua yang berbau have fun
  • keterlibatan dalam komunitas mahasiswa Katolik di kampus sekedar anggota saja. Mereka kurang berkontribusi dalam komunitas mahasiswa Katolik di kampus
  • terlihat di gereja untuk mengikuti misa (selain misa jarang muncul di gereja
  • cenderung tidak tertarik untuk tahu berbagai permasalahan nasional; indikasinya  kurang membaca koran, lebih suka membaca komik

Kedua, mahasiswa Katolik yang cenderung mencuatkan diri sebagai pribadi yang ”altruist”. Altruist dalam arti yang luasnya “suka mementingkan kepentingan orang lain”. Barangkali mereka cocok disebut Generasi “Cool”. Mereka yang masuk dalam kawanan orang muda itu teridentifikasi “enjoy” dengan hal-hal berikut:

  • Kegiatan bersama teman-teman dalam pergaulan disikapi sebagai bagian kebutuhan sosial yang dipenuhi secara wajar
  • Tergabung dalam kelompok yang bisa menjadi wadah bagi ekspresi bakat dan minat mereka
  • Kuliah juga disadari sebagai tugas yang perlu dilaksanakan secara baik dan bertanggungjawab
  • Mereka tertarik untuk ikut terlibat dan berkontribusi dalam komunitas mahasiswa Katolik di kampus
  • Ada pula yang selain aktif dalam organisasi mahasiswa Katolik di kampus juga aktif dalam komunitas pemuda di gereja, atau mungkin satu di antaranya
  • Karena sudah akrab dengan diskusi dan terlatih memikirkan persoalan bersama dalam organisasi, isu-isu sosial kebangsaan juga menjadi suatu hal yang menarik untuk mereka pelajari

Namun, meskipun mahasiswa Katolik yang teridentifikasi sebagai Generasi “Cool” cukup banyak terlibat dalam berbagai organisasi kemahasiswaan di kampus, rupanya ketertarikan mereka untuk berkecimpung dalam organisasi perpolitikan di kampus masih rendah. Mereka agaknya tidak tertarik untuk terlibat dalam organisasi politik mahasiswa “ekstra kampus”. Misal saja ketertarikan teman-teman mahasiswa Katolik FISIP Undip. Mereka lebih memilih bergabung dalam himpunan mahasiswa jurusan ketimbang menjadi kader organisasi ekstra sembari duduk dalam kepengurusan BEM atau Senat.

Sejarah Inspirasi Kebangsaan Kaum Muda

Ada banyak tokoh mahasiswa yang namanya sudah terukir dalam catatan sejarah. Perjuangan mereka terbukti sudah menciptakan perubahan bagi republik ini. Sebut saja Soe Hok Gie yang pada era 1966 begitu teguh pada prinsip berjuang lewat penanya. Atau Auwjong Peng Koen yang kemudian lebih dikenal PK. Ojong dengan perjuangannya menyuarakan persamaan hak bagi masyarakat Tiong Hoa. Pada 1954, PK Ojong bersama Siauw Giok Tjhan, Yap Thiam Hien, Go Gien Tjwan dan Oei Tjoe Tat tergabung dalam Baperki yang fokus memperjuangkan hak masyarakat Tiong Hoa di Indonesia.

Profesor Syafii Ma’arif melalui artikel berjudul “Dulu Tulus Kini Tidak” yang dimuat dalam majalah Basis edisi Ketulusan Mei-Juni 2000, menulis beberapa tokoh muda Katolik seperti IJ Kasimo, Herman Johannes, AM Tambunan, dan J Leimena bersama-sama tokoh Masyumi dan PSI mencoba melawan sistem politik otoritarian Soekarno pada era Demokrasi Terpimpin (1959-1965/66). Ditulis pula Natsir yang tokoh Masyumi dengan IJ Kasimo yang aktivis Partai Katolik membangun pondasi persahabatan yang tulus. Profesor Syafii Ma’Arif mengatakan persahatan itu terpupuk oleh IDEALISME & INTEGRITAS PRIBADI. Mereka adalah MORALIS SEJATI, yang peka membaca tanda-tanda zaman realitas rahim bangsanya.

Kita juga pasti masih ingat detik-detik menjelang proklamasi kemerdekaan bangsa ini. Tanggal 16 Agustus tokoh-tokoh muda kita mengambil insiatif untuk mengamankan Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok. Padahal satu minggu sebelum proklamasi kemerdekaan, tanggal 9 Agustus 1945, Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta dan Dr. Radjiman Wediodiningrat singgah ke Taiping yang terletak di Semenanjung Malaya. Di Taiping mereka mengadakan pertemuan dengan para pemimpin gerakan kebangsaan Melayu untuk membicarakan upaya persiapan kemerdekaan. Dan mereka bersepakat untuk menyatakan kemerdekaan bangsa pada tanggal 22 Agustus 1945. Namun, atas desakan teman-teman muda waktu itu, akhirnya proklamasi kemerdekaan dinyatakan lebih awal dari kesepakatan sebelumnya pada tanggal 17 Agustus 1945.

Mereka, kaum muda serta mahasiswa pada zaman itu telah menorehkan sejarah perjuangan. Sumbangan mereka bagi negeri ini sangatlah besar. Yang terutama bagi mahasiswa masa kini adalah inspirasi dan nilai keteladanan yang mereka sumbangkan. Dalam kondisi yang serba menghimpit, dengan penuh semangat Soe Hok Gie, Auwjong Peng Koen, IJ Kasimo dan teman-teman era 45 berjuang membuat sebuah perubahan ke arah lebih baik. Kebangkitan nasional mewujud dalam setiap derap perjuangan mereka.

Mahasiswa zaman ini, sekurang-kurangnya diri saya pribadi, menjadi perlu berintrospeksi dan menata diri kembali. Berbagai tantangan memang seakan tak kuasa dibendung dan akan datang bertubi-tubi. Pemandangan yang terjadi saat ini saya baca sebagai akibat dari beberapa situasi:

  1. Mahasiswa Katolik masa 2000-an tidak mengalami revolusi kemerdekaan yang membakar semangat ‘heroic’. Pun euforia penumbangan rezim Orde Baru telah menipis aroma perjuangannya. Heroisme dan nyali perjuangan ala Soe Hok Gie atau IJ Kasimo menjadi jarang dipilih.
  2. Terpaan media dalam berbagai bentuk komoditinya jeli menawarkan pola hidup hedonis, konsumeristik, dan serba instan. Keteguhan prinsip dan kesederhanaan hidup yang dicontohkan PK. Ojong semakin tidak diminati.
  3. Biaya kuliah yang relatif mahal ditambah lagi kesempatan kerja yang terbatas mengakibatkan para mahasiswa masa ini lebih memilih mengabaikan pengembangan idealisme untuk terlibat mengambil peran dalam kondisi sekitar.
  4. Kekuatan ekonomi neoliberal di era globalisasi menyebabkan mahasiswa masa ini cenderung mengintegrasikan dirinya tanpa memberi peluang untuk bersikap mengkritisi.

Menjadi tidak mengherankan lagi apabila arti dan semangat kebangkitan nasional bagi mahasiswa semakin kabur jawabnya. Peristiwa dan kondisi memprihatinkan bangsa ini pun tidak dipahami. Permainan kongkalikong para elite penguasa dan elite kapitalis dalam pengadaan tender minyak, energi listrik, gas alam, serta telekomunikasi menjadi sebuah isu yang tidak menarik untuk dipahami. Perkembangan kasus korupsi yang sudah mulai ditangani KPK atau rekening gemuk para petinggi Polri bukanlah topik yang laku dalam obrolan. Diskusi ilmiah atau diskusi yang mengangkat tema-tema kebangsaan kembali hanya dihadiri oleh mahasiswa yang itu-itu saja.

Bangkit dan Bergeraklah!

Tokoh-tokoh pejuang yang pernah mengukir sejarah bagi bangsa ini banyak yang berasal dari kalangan mahasiswa Katolik. Hasil perjuangan mahasiswa Katolik masa lalu membuktikan kesetiaan mereka dalam mengemban tanggung jawabnya. Tanggung jawab tersebut tidaklah ringan. Mahasiswa Katolik sebagai pribadi bertanggungjawab kepada keluarga, kepada komunitasnya di kampus, kepada gereja secara teritorial (paroki atau stasi), kepada masyarakat dan bangsa Indonesia, serta mengemban tanggung jawab sebagai pengikut Kristus.

Dengan mengemban tanggung jawab itu mereka akan semakin memperkuat identitasnya sebagai mahasiswa Katolik. Identitas atau identity secara harfiah berarti ciri-ciri, tanda (simbol) atau jati diri yang melekat pada seseorang atau sesuatu yang membedakan dengan yang lain. Identitas sebagai mahasiswa Katolik berarti ciri-ciri yang melekat pada diri seorang mahasiswa Katolik yang membedakannya dengan mahasiswa yang lain. Identitas tersebut nantinya akan diikuti oleh konsekuensi yang menyertai berupa tanggung jawab serta tantangan yang harus dihadapi.

Mengakhiri refleksi ini saya ingin meneguhkan diri saya pribadi sebagai mahasiswa Katolik sembari mengajak kawan-kawan semua untuk bangkit dan bergerak dari suasana yang menggelayut saat ini. Untuk itu saya ingin membagikan kutipan dari sebuah tulisan Mgr. J Pujasumarta yang berjudul Teologi Inkarnasi.

Kedatangan Yesus ”dalam daging” disebut secara teologis penjelmaan, ”inkarnasi” (Yoh. 1:14), dan kematian-Nya ”dalam daging” disebut pengosongan diri, ”kenosis” (Fil. 2:7). Bila Gereja menemukan jati dirinya dalam Yesus Kristus yang menjadi daging ”in carne”, maka seperti Kristus  Gereja pun harus berani mengalami nasib menjadi korban untuk mewartakan Kerajaan Allah yang memerdekakan. Dengan demikian Gereja berada pada pihak manusia yang menjadi korban ketidakadilan. Jati diri Gereja ini hendaknya diwujudkan dalam habitus baru, yaitu solider dengan korban. Untuk itu perlu dikembangkan spiritualitas martyria.

Saya, Anda, kita semua sebagai mahasiswa Katolik adalah Gereja. Karena itu menjadi semakin jelaslah ke mana kita harus melangkah. Bangkit dan bergerak menjadi pribadi yang percaya diri menatap realitas zaman, tampil sebagai Generasi ”Cool” yang ”sembada”. Semoga mimpi ini menjadi pasti: lahir mahasiswa dan orang muda Katolik yang bangga memupuk idealisme dan tekun memperjuangkan integritas pribadi, menjadi seorang moralis sejati.

***

Prof. Dr. N. Driyarkara, SJ

Beliau lahir di lereng Pegunungan Menoreh, tepatnya di Desa Kedunggubah, lebih kurang 8 km sebelah timur Purworejo, Kedu, Jawa Tengah tanggal 13 Juni 1913. nama kecilnya adalah Soehirman dan biasa dipanggil Djenthu. Tanggal 11 Februari 1967 ia dipanggil Tuhan untuk selama-lamanya dalam usia 53 tahun 8 bulan.

Semasa hidupnya, pernah menempuh studi teologi di Maatsricht, Belanda yang ditamatkan pada tahun 1949. Kemudian pada tahun 1950-1952 ia melanjutkan studi filsafat untuk program doktoral pada Universitas Gregoriana Roma. Dalam masa studi itu, ia biasa mengirim tulisan ringan tetapi seringkali bermakna mendalam untuk majalah Bahasa Jawa di Yogyakarta Praba.

Sampai awal tahun 1951, namanya memang tidak banyak dikenal oleh khalayak ramai. Hampir seluruh waktunya ia pergunakan untuk studi secara intensif. Tetapi ini tidak berarti bahwa ia lalu mengurung diri dalam pemikiran-pemikiran yang abstrak atau teoretis belaka. Catatan-catatan harian yang ia buat sejak tanggal 1 Januari 1941 sampai sekitar tahun 1950 menunjukkan bagaimana ia tidak pernah lepas dari pergulatan dengan masalah-masalah yang dihadapi oleh umat manusia pada umumnya dan rakyat Indonesia pada khususnya.

Sekembali dari studinya, ia diangkat menjadi pengajar filsafat pada Kolese Ignasius di Yogyakarta. Kemudian, ketika Perguruan Tinggi Pendidikan Guru Sanata Dharma Yogyakarta didirikan pada awal tahun 1955-1956, ia diangkat menjadi pimpinannya. Ketika FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) berubah menjadi IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) pun, ia tetap menjabat sebagai Rektor hingga meninggalnya. Sejak tahun 1960 ia merangkap sebagai Guru Besar Luar Biasa pada Universitas Indonesia dan Universitas Hassanuddin. Tahun 1963-1964 ia mengajar sebagai Guru Besar tamu pada St. Louis University di kota St. Louis, Missouri, USA. Ini menjadi bukti bahwa sumbangannya terhadap dunia pendidikan memang berarti. Sebagai pendidik ia juga masih bersedia memberi diri untuk memimpin majalah Basis (1953-1965).

Baktinya untuk Indonesia ia tuangkan dalam pemikirannya yang luas, meliputi wilayah kemanusiaan, kebudayaan, sosialitas, etika, pendidikan, dan kenegaraan terutama pemikirannya tentang ideologi pancasila. Sumbangannya pada waktu peralihan Orde Baru dalam memikirkan kembali peranan Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara tetap merupakan tinjauan-tinjauan yang mendalam dan mendasar.

Ia dikenal sebagai pemerkaya khasanah filsafat bagi masyarakat. Ia banyak menulis pada majalah Basis, dengan judul pertamanya: “Gereja Katolik dan Poligami”. Banyak tulisan-tulisannya yang bernas dengan kadar filosofis yang mantap. Karena segala sumbangsihnya untuk Bangsa Indonesia, Presiden RI, BJ Habibie pada tanggal 13 Agustus 1999 menganugerahi Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama.

Ia juga seorang pecinta alam. Dalam salah satu tulisannya dikisahkan bagaimana ia begitu menikmati pendakian gunung berapi tersohor di Italia yaitu Visuvio. Teman-temannya mengakui kekuatan fisiknya yang terbukti dari keunggulannya naik turun gunung.

Prof. Dr. Fuad Hassan menggambarkan perjalanan hidup pemikir Drijarkara sebagai yang “terus menerus menjelang, terus menerus membelum, namun punya satu kepastian, yaitu meluluhkan diri dengan Tuhan Sumber Kebenaran. Oleh karena itu pula, maka jiwa penjelajahannya tidak membuat beliau sebagai pemikir petualang, melainkan pemikir promenade yang mampu menghayati pagi sebagai aubade kemanusiaan semesta dan malam sebagai serenade yang rindu kepada hari esok; bagi beliau kehidupan ini adalah suatu simfonia universil yang dianugerahkan Tuhan kepada umat manusia.”

*dikutip dari buku “Karya Lengkap Driyarkara”

Mewarisi Nilai Pluralis Multikultural Gus Dur

Itulah Gus Dur, sosok yang memiliki komitmen kuat tentang pluralisme Indonesia. Dia juga pembawa pemikiran Islam modern dalam semangat tradisional. Sebab itulah mungkin yang menyebabkannya dituduh terlalu liberal dalam pikiran tentang keagamaan.”(Suara Merdeka, 29 Januari 2010) Read the rest of this page »

Kontestasi President Idol

Tanggal 8 Juli 2009 ini, Indonesia memilih pemimpin tertingginya yang akan menduduki kursi RI-1. Dalam tiga bulan terakhir, tiga kontestan pasangan calon presiden dan wakil presiden telah beradu taktik dan strategi merebut simpati rakyat – para konstituen mereka. Muncullah suguhan menarik pesta demokrasi ala Indonesia bertajuk President Idol.

Hampir semua stasiun televisi nasional menyajikan liputan seputar figur Megawati-Prabowo, SBY-Boediono, dan Jusuf Kalla-Wiranto lengkap dengan kontroversi serta jualan politik mereka. Media dengan lihai mengemas isu politik menjelang pilpres dan menyedot sebesar-besarnya atensi publik.

Berawal dari kemenangan Partai Demokrat dalam Pemilu Legislatif, berita politik mulai gencar menghiasi layar kaca dan headline surat kabar. Kekisruhan Daftar Pemilih Tetap dan tuntutan para caleg yang gagal menuju parlemen menjadi informasi yang begitu banyak dimuat oleh media. Menyusul kemudian berita seputar bursa pasangan capres-cawapres yang mulai ramai. Lobi-lobi politik dengan berbagai kepentingan yang ada di baliknya disajikan sebagai sebuah tontonan layaknya pertunjukan wayang semalam suntuk.

Berdasarkan hasil Pemilu Legislatif, sembilan partai politik dinyatakan lolos ambang batas minimal parlemen. Kemudian muncul nama-nama kandidat presiden beserta spekulasi wakil presiden pendamping mereka. Hiruk pikuk politik terjadi. Masyarakat sebagai audience media merespon dengan keingintahuan menggebu, tetapi ada juga kelompok publik yang acuh seolah tak mau tahu. Mereka yang mau tahu, asik membicarakan satu potret kehidupan politik negeri ini di sudut-sudut warung kopi.

Akhirnya terjawablah tanda tanya, spekulasi, dan tebak-menebak seputar kandidat presiden dan wakilnya yang akan memimpin dua ratusan juta manusia di republik ini. Kandidat yang mendeklarasikan diri pertama kali sebagai capres dan cawapres adalah pasangan Jusuf Kalla-Wiranto. Dengan mengambil akronim JK-Win, pasangan dari koalisi Partai Golkar dan Hanura ini mengusung tagline “Lebih cepat, lebih baik dengan hati nurani.” Sembari mengenang dua proklamator RI, pasangan JK-Win memilih tugu proklamasi sebagai tempat untuk menyatakan diri mereka maju dalam Pilpres 2009.

Sejarah politik kembali berlanjut. Dua tokoh yang semula diprediksi tidak akan berjalan bersama, yakni Megawati dari PDI Perjuangan dan Prabowo dari Partai Gerindra menyatakan siap maju sebagai kandidat presiden dan wakil presiden. Tidak kalah heboh dengan pasangan JK-Win, Mega-Prabowo mendeklarasikan diri sebagai pasangan capres-cawapres di Tempat Pembuangan Akhir Bantar Gebang, Bekasi. Jargon sebagai pasangan yang setia membela wong cilik serta akan berjuang untuk petani dan nelayan menjadi senandung merdu yang selalu mereka kumandangkan.

Pasangan ketiga lahir dari Koalisi Biru. Partai Demokrat sebagai pemenang Pemilu Legislatif mengusung Susilo Bambang Yudhoyono. Meski menggandeng PAN, PKB, PPP, PKS, dan partai kecil yang lain, SBY memutuskan untuk meminang calon wakil presiden dari kalangan non partai. Drama politik dan lobi-lobi panas kembali disuguhkan. Masyarakat penyuka politik dibuat penasaran dan bertanya-tanya siapa gerangan cawapres yang akan mendampingi SBY. Dan rupanya SBY lebih memilih Boediono. Mereka mendeklarasikan diri sebagai pasangan capres-cawapres di Sasana Budaya Ganesha Bandung. Suasana bergelora dipenuhi gegap gempita simpatisan memantapkan langkah untuk melanjutkan pemerintahan.

Genderang perebutan kursi panas RI-1 ditabuh. Ketiga pasangan capres-cawapres berlomba meningkatkan elektabilitas mereka dengan beriklan baik di televisi, internet, maupun media cetak. Dari hari ke hari tim sukses masing-masing calon semakin gencar mengiklankan kandidat yang mereka usung. Publik menjadi akrab dengan tagline ”Lebih cepat, lebih baik!” yang diusung oleh pasangan JK-Win. Mereka semakin mengenal Prabowo yang dicitrakan dekat dengan petani dan nelayan. Di banyak tempat sering terdengar jingel lagu ”SBY Presidenku”. Demikianlah iklan politik yang merebak mewarnai media menjadi santapan sehari-hari dan mengisi ruang santai keluarga Indonesia.

Siapakah yang akan menang? Setelah tanggal 8 Juli bisa jadi pertanyaan tersebut bisa terjawab, setidaknya melalui penghitungan cepat yang marak dilakukan oleh banyak lembaga survey. Uniknya, preferensi pemilih Indonesia sedikit banyak seakan terpengaruh oleh kemasan citra personal. Kehebohan program Idola produksi salah satu stasiun televisi, entah Indonesian Idol, Idola Cilik, dls teradopsi dalam beberapa acara talkshow dan debat politik.

Sembari mengingat, dari tiga kali debat capres dan dua kali debat cawapres, stasiun televisi penyelenggara selalu mengadakan polling sms. Pemirsa yang berminat bisa mengirim sms untuk memilih figur capres atau cawapres favorit mereka dengan membayar premium call Rp2.000,00 per sms. Hasil polling ini pun ditayangkan di akhir acara, mirip dengan program tayangan bertajuk Idol.

Bahkan hingga debat capres final yang diselenggarakan oleh KPU bekerjasama dengan RCTI, polling sms ini tetap berjalan. SBY selalu memimpin peroleh suara versi polling sms dalam setiap kesempatan debat. Pada debat final yang lalu, presenter menginformasikan hasil polling dan mengatakan hasil tersebut hanya mewakili 2% dari keseluruhan jumlah pemilih. Dikatakan pula, hasil polling tersebut tidak dimaksudkan untuk mengarahkan suara pemilih pada salah satu calon. Apabila demikian, lalu apa signifikansi dari polling sms capres dan cawapres tersebut?

Dari hitung-hitungan ekonomi, jelas ada motivasi profit. Dengan harga premium call Rp.2.000,00 per sms akan menghasilkan uang berlipat ganda ketika ada 1.000.000 pengirim sms. Keuntungan yang didapat tentu menjadi pundi-pundi yang nominalnya hanya diketahui oleh pihak stasiun televisi penyelenggara, operator penyelenggara polling, dan atau bisa jadi KPU.

Selanjutnya, lepas dari hitung-hitungan keuntungan, polling sms capres-cawapres bisa dikatakan berperan membodohkan publik. Secara tidak langsung, publik terdidik untuk memilih calon presiden dan wakilnya dengan pertimbangan suka atau tidak suka, layaknya menentukan sang idola. Padahal, di balik keputusan memilih presiden dan wakilnya perlu ada usaha mengenal rekam jejak, mencermati visi dan misi mereka, serta menimbang kapasitas dan akuntabilitas setiap calon. Dalam logika memilih idola, aspek-aspek tersebut jelas terabaikan.

Idola akan dipilih karena ia disukai, menarik, dan dianggap berkesan. Polling sms menjadi satu indikasi adanya pengidolaan calon presiden dan wakil presiden. Apabila tren itu yang berkembang, negeri ini masih selamat sepanjang sang President Idol memang merupakan figur negarawan dan bercita-cita menyejahterakan rakyat. Namun, ketika sang President Idol hanyalah tokoh yang cakap memoles diri, hancurlah negeri ini.

Bangsa ini jelas butuh presiden yang berikhtiar membangun negeri. Semoga siapa pun nanti tokoh yang terpilih, ia mampu membawa Indonesia menuju kejayaan. Dengan demikian lima tahun mendatang keadaan menjadi semakin baik dan lahirlah Presiden Teridola bukan sekedar Calon Presiden Idola.

Inspirasi Kecil tentang Kecintaan Membaca

Membaca sewajarnya menjadi aktivitas yang dekat dengan para mahasiswa. Kuliah menuntut kekayaan wacana dan wawasan yang mendorong saya dan teman-teman sekalian untuk semakin dekat dengan buku serta beraneka referensi penunjang lainnya. Informasi surat kabar, majalah, atau artikel dari internet merupakan sumber yang sering kita akses dan menjadi bahan bacaan untuk memperkaya khasanah pengetahuan. Namun, apakah kita benar-benar sudah mempunyai kebiasaan membaca? Jangan-jangan bahan bacaan tadi menjadi akrab bagi kita ketika terdesak untuk merampungkan tugas kuliah saja?

Kaum Muda ’Tempo Doeloe’ yang Menginspirasi

Ada banyak tokoh mahasiswa yang namanya sudah terukir oleh sejarah. Perjuangan mereka terbukti sudah menciptakan perubahan bagi negeri ini. Sebut saja Soe Hok Gie yang pada era 1966 begitu teguh pada prinsip berjuang lewat penanya. Atau Auwjong Peng Koen yang kemudian lebih dikenal PK. Ojong dengan perjuangannya menyuarakan persamaan hak bagi masyarakat Tiong Hoa. Pada 1954, PK Ojong bersama Siauw Giok Tjhan, Yap Thiam Hien, Go Gien Tjwan dan Oei Tjoe Tat tergabung dalam Baperki yang fokus memperjuangkan hak masyarakat Tiong Hoa di Indonesia.

Kita juga pasti masih ingat detik-detik menjelang proklamasi kemerdekaan bangsa ini. Tanggal 16 Agustus tokoh-tokoh muda kita mengambil insiatif untuk mengamankan Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok. Padahal satu minggu sebelum proklamasi kemerdekaan, tanggal 9 Agustus 1945, Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta dan Dr. Radjiman Wediodiningrat singgah ke Taiping yang terletak di Semenanjung Malaya. Di Taiping mereka mengadakan pertemuan dengan para pemimpin gerakan kebangsaan Melayu untuk membicarakan upaya persiapan kemerdekaan. Dan mereka bersepakat untuk menyatakan kemerdekaan bangsa pada tanggal 22 Agustus 1945. Namun, atas desakan teman-teman muda waktu itu, akhirnya proklamasi kemerdekaan dinyatakan lebih awal dari kesepakatan sebelumnya pada tanggal 17 Agustus 1945.

Mereka, kaum muda serta mahasiswa pada zaman itu telah menorehkan sejarah perjuangan. Sumbangan mereka bagi negeri ini sangatlah besar. Yang terutama bagi mahasiswa masa kini adalah inspirasi dan nilai keteladanan yang mereka wariskan. Dalam kondisi yang serba menghimpit, dengan penuh semangat Soe Hok Gie, Auwjong Peng Koen, dan teman-teman era 45 berjuang membuat sebuah perubahan ke arah lebih baik.

Kaum muda ’tempo doeloe’ sangat sensitif dengan permasalahan kebangsaan. Dari hari ke hari mereka semakin menyadari bahwa modal utama untuk membebaskan Indonesia dari tangan penjajah adalah kekayaan pengetahuan. Mulailah bermunculan intelektual-intelektual muda yang begitu getol mempelajari sejarah kelam masa lalu Indonesia serta berbagai pengetahuan yang sebelumnya terpendam bagai harta karun. Mereka mulai mencintai kebiasaan membaca, berargumen baik secara lisan maupun tertulis, serta menajamkan gagasan lewat diskusi. Itu semua digerakkan oleh sebuah cita-cita luhur yakni menuju alam kemerdekaan.

Kebiasaan membaca semakin memperkaya isi kepala para intelektual muda ‘tempo doeloe’ dengan berbagai perspektif tentang perjuangan pembebasan Indonesia. Kekayaan pengetahuan dan gagasan itu pun mendorong mereka untuk berbagi dengan yang lain. Banyak terbitan surat kabar mulai berdiri. Salah satunya adalah koran Keng Po yang berdiri pada tahun 1945. Waktu itu pemimpin redaksi terbitan ini adalah Injo Beng Goat yang kemudian menjadi teman karib PK. Ojong. Keng Po sempat ditutup karena dirasa terlalu frontal menentang Jepang. Namun, pada 2 Januari 1947 hidup kembali dan semakin setia menajamkan wacana kritis masyarakat era itu dengan semangat perjuangan.

Selain terbitan koran Keng Po, lahir pula terbitan majalah mingguan Star Weekly pada 6 Januari 1946. Pada awal terbitnya, majalah ini dipimpin oleh Tan Hian Lay. Kemudian Auwjong Peng Koen semakin terlibat membesarkan majalah mingguan tersebut. Auwjong menunjukkan dedikasi yang tinggi pada majalah ini. Ia juga merupakan sosok yang sangat gemar membaca, karenanya kemudian ia dipercaya sebagai redaktur pelaksana Star Weekly.

Terkait kebiasaan membaca Auwjong, Helen Ishwara dalam Hidup Sederhana Berpikir Mulia PK. Ojong, berkisah banyak. “Buku catatan harian Auwjong penuh judul buku, tanggal, dan harga pembeliannya. Ia rajin menjelajahi toko buku, buku baru atau pun bekas. Kalau menginap di Bandung, di rumah sahabatnya semasa di HCK, Liem Boen Tik, ia bukan hanya senang nongkrong makan sate di kota sejuk ini, tetapi juga tidak lupa pergi ke pasar loak, tempat buku-buku bekas digelar.” Ojong benar-benar mencintai buku.

Belajar dari Mereka

Mahasiswa masa ini – saya dan teman-teman sekalian, agaknya perlu banyak belajar dari sosok seperti PK. Ojong, Injo Beng Goat, Soe Hok Gie, serta tokoh-tokoh muda Rengasdengklok. Mereka tampil sebagai kaum muda yang memiliki intelectual habits. Ojong dan Injo adalah pemimpin redaksi yang kaya wawasan karena mereka berdua sama-sama kutu buku. Gagasan mereka diikuti oleh banyak orang. Soe Hok Gie dan tokoh muda Rengasdengklok juga patut diteladani. Mereka memiliki keteguhan prinsip. Sangat gemar menajamkan gagasan lewat diskusi dan punya kepercayaan diri untuk berargumen.

Di zaman ini pun muncul sosok pahlawan intektual yang begitu getol menyebarkan virus gemar membaca. Dari sebuah artikel di harian KOMPAS, edisi 8 November 2008 saya menemukan kutipan seperti ini: “Saya tidak akan pernah berhenti mengajak bangsaku untuk gemar membaca agar menjadi bangsa yang cerdas supaya kelak dapat menyelesaikan persoalan bangsa.” Itulah pernyataan Parmanto, lelaki berusia 62 tahun yang berkomitmen mengajak sebanyak-banyaknya orang agar mempunyai kebiasaan membaca.

Mantan pegawai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah itu, sejak tahun 2005 mengusahakan pendirian taman bacaan umum. Ia merelakan salah satu rumahnya untuk diisi 2000 koleksi buku berupa komik, novel, buku pelajaran, dan bahan skripsi dan menamainya “Taman Bacaan Mortir Parmanto.” Mula-mula taman bacaan yang berlokasi di Jalan Meranti Timur Dalam I/346, Banyumanik, Semarang tersebut setiap hari didatangi oleh 20-30 pengunjung. Namun, kini jumlah pengunjung mulai berkurang, hanya sekitar 10 orang saja setiap harinya dan sebagian besar adalah siswa Sekolah Dasar.

Itulah sekelumit cerita dari figur seorang Parmanto yang mewakili para pecinta buku dan sadar akan arti penting membaca. Parmanto tidak menyimpan sendiri kekayaan khasanah pengetahuannya. Ia ingin berbagi dengan orang lain, mengajak sebanyak-banyaknya teman, tetangga dan para kerabat untuk mulai gemar membaca.

Semoga, mahasiswa zaman ini – saya dan teman-teman sekalian semakin menyadari arti penting membaca. Paradigma membaca buku sekedar untuk menyelesaikan tugas kuliah terkikislah sudah. Mari kita amini buku sebagai sumber kekayaan ilmu. Semakin memperdalam isi kepala kita, menambah wacana dan gagasan untuk berargumen serta memantapkan pribadi para mahasiswa sebagai calon intelektual muda masa ini. Itu semua lahir dari sebuah kesetiaan untuk mau duduk berdiam beberapa lama sembari mengunyah harta di dalam sebuah sumber bacaan – apa pun itu wujudnya.

BALADA KAKI LIMA

…..di malam yang sesunyi ini, aku sendiri, tiada yang menemani. Hanya dirimu yang kucinta dan kukenang. Di dalam hatiku, tak kan pernah hilang, bayangan dirimu untuk selamanya…..

Penulis beberapa kali ikut ngamen dalam rangka pencarian dana yang dilakukan oleh teman-teman mahasiswa dari PRMK Fisip Undip. Menjelang kegiatan ziarah, “genjrengan” gitar dan potongan lagu menjadi modal untuk mengumpulkan uang dari para penikmat makanan di sepanjang Jalan Pahlawan. Dinamika dan pengalaman ini masih terngiang dan menjadi bahan refleksi untuk bercerita tentang pedagang kaki lima.

Beberapa saat menjelang perhelatan Semarang Pesona Asia, kebijakan penertiban pedagang kaki lima yang berjualan di sekitar Simpang Lima dan sepanjang Jalan Pahlawan mulai mengemuka. Sontak, muncul penolakan sekaligus pengiyaan menyangkut kebijakan itu. Para pedagang ronde dan kacang godhok di depan Gedung Berlian, tenda-tenda penjaja pecel layaknya ‘Pecel Mbak Tum’ yang selalu ramai, kedai es buah dan tahu gimbal, serta banyak jualan ala kaki lima lainnya terancam diusir dari tempat pencarian nafkah mereka.

Bagi para pedagang kaki lima, kebijakan penertiban tersebut menjadi bukti ketidakadilan dan sikap tidak memihak pada pedagang kecil. Simpang Lima merupakan titik ramai yang menjadi pusat kegiatan ekonomi mikro. Tiap malam banyak orang berjalan-jalan di pusat kota sembari mencari tempat makan. Tenda-tenda kaki lima dengan aneka makanannya menjadi pilihan. Para pedagang berjejer rapi menjajakan makanan, mengais rezeki untuk menghidupi anak istri. Lalu, ke mana mereka harus pergi ketika Simpang Lima dan kawasan Pahlawan dibersihkan?

Potret miris mengenai pedagang kaki lima tidak hanya terlihat di Jalan Pahlawan. Beberapa kali penulis menjumpai petugas Satpol PP mengusir paksa pedagang kaki lima di sekitar Erlangga. Gerobak dagangan beserta isinya diangkut paksa menggunakan truk. Ibu pemilik gerobak kaki lima menjerit – menolak, menangis – menderu. Pemandangan itu menjadi wajar. Mereka tak tahu harus bagaimana menghidupi diri dan keluarga. Menyandarkan kepala di waktu malam pun mereka tak punya tempat lagi. Entah di mana arti kebebasan hidup dan jaminan atas kehidupan yang layak.

Di lain pihak, ada saja yang menganggap kebijakan pembersihan jalan kota dari para pedagang kaki lima adalah hal yang tepat dan berdasar. Alasan untuk meningkatkan keindahan dan mempercantik tata kota menjadi langganan. Kota Semarang – tanpa kaki lima – sebagai ibu kota Jawa Tengah, dianggap akan semakin indah. Ketika jalan-jalan di sepanjang Pahlawan bersih dari para pedagang, berhasillah pemerintah mengelola kota. Itulah pendapat mereka. Menyusul kemudian berbaris alasan normatif nan pragmatis pendukung kebijakan itu.

Bagaimana pun kebijakan itu merugikan para pedagang. Mereka kehilangan mata pencaharian. Bisa dibayangkan, ketika berjualan adalah mata pencaharian utama untuk menghidupi keluarga terampas, mereka hidup terlunta. Anak, istri, dan keluarga ikut menanggung derita.

Kerugian lainnya, perekonomian di sektor mikro terhenti. Aktivitas jual beli di kelas pedagang kecil dan eceran tersumbat. Gaya belanja dan pola konsumsi semakin terarah ke model swalayan, mall, dan pusat belanja – raksasa perdagangan yang menghisap naluri konsumtivisme. Boleh dikata realita ini masih terlalu jauh. Namun, ketika subjek ekonomi mikro, yakni mereka para pedagang kecil, dikorbankan untuk alasan apa pun, kondisi itu semakin pasti terjadi.

Yang lebih utama adalah fakta perampasan hak atas penghidupan yang layak. Para pedagang kaki lima memiliki hak atas hidup yang layak. Mereka mencapai itu dengan berjualan di pinggir jalan. Keterbatasan modal, keterampilan, dan kesempatan membuat mereka melakukannya. Yang pasti mereka berhak bekerja dan menghidupi diri dengan cara yang halal.

Cerita duka lain akan terkisah oleh para pengamen dan peminta. Tak ada lagi tempat menyanyi dan menadahkan topi untuk mengisi perut dari uang recehan yang mereka kumpulkan. Mereka semakin terperosok ke dalam penderitaan. Demikianlah balada kaki lima lengkap dengan kisah anak jalanan, para pengamen dan peminta. Satu sisi kehidupan yang harus terusik oleh kebijakan dengan alasan untuk ketertiban.
Andai para pedagang kaki lima merusak keindahan dan memperburuk tata kota, hendaknya perlu dipikirkan solusi yang lebih bijak tanpa merampas kemerdekaan. Yang pertama, bisa dipikirkan bagaimana menyiapkan lahan strategis untuk para pedagang. Selama ini mereka berjualan di sepanjang trotoar. Tidak dimungkiri ada beberapa persoalan yang ditimbulkan ketika para pedagang tidak memahami sistem pembuangan limbah dan upaya memelihara sanitasi. Kondisi tersebut antara lain mengakibatkan ruas jalan di sepanjang trotoar menjadi kotor, saluran air dan gorong-gorong tersumbat sampah, sehingga di musim hujan banjir mengancam.

Upaya relokasi ini harus dikomunikasikan dengan para pedagang. Kesepahaman gagasan dan tujuan harus terbangun. Pemerintah hendaknya tidak lagi berorientasi pada keuntungan. Para pedagang kaki lima pun hendaknya semakin sadar akan tujuan. Lahan dan posisi strategis menjadi sarana untuk mengakomodasi kepentingan para pedagang. Yang harus menjadi perhatian kemudian mengupayakan nominal retribusi seminimal mungkin.

Public sphere harus berfungsi sebagaimana mestinya. Di beberapa tempat dibangun pujasera (pusat jajanan serba ada). Namun agaknya, tampilan, harga, sajian serta biaya sewa tiap kedai relatif tidak terjangkau untuk para pedagang sekelas kaki lima. Pujasera justru mirip dengan food court yang banyak berjejer di mall dan supermarket. Pemerintah kota harus rela memilih kaki lima. Fasilitas umum, tanah Negara, serta kebijakannya semestinya diperuntukkan bagi mereka yang bermodal kecil, membutuhkan hidup layak. Karena itu, akan semakin indah ketika pujasera di Semarang entah di Jalan Gajahmada atau di Jalan Pemuda menjadi ‘milik’ para pedagang kaki lima.

Yang terakhir, kesadaran bersama menjadi prasyarat. Para pedagang kaki lima sewajarnya peka akan pemeliharaan fasilitas bersama. Pembuangan limbah dapur, pengelolaan sampah, pemerhatian sanitasi tempat berjualan dan pemenuhan kewajiban membayar retribusi harus dilakukan dengan disiplin. Selain itu, untuk kesehatan bersama wajib diperhatikan pentingnya pengadaan air bersih, cara penyajian makanan yang higienis serta kualitas makanan yang dijajakan.

Sikap pro pedagang kaki lima menjadi harapan. Gambaran akan kehidupan yang lebih layak bagi mereka – para pedagang kaki lima, peminta, dan pengamen – masih sebatas utopia. Ketika kesadaran akan pemihakan kepada mereka sudah terusik, semoga aksi nyata terlahir kemudian. Dan marilah kita dengungkan terus kesadaran itu sembari bersenandung: “Sempatkanlah untuk melihat di sekitar kita ada kesenjangan antara manusia…Lihat sekitar kita…”