membaca, diskusi, dan menulis untuk membentuk diri menjadi makhluk berbudi

Dimulai dari Bersikap Kritis

Bagi anak kecil kecenderungan untuk mempertanyakan semua hal yang baru ia kenal adalah sesuatu yang wajar. Misalnya saja seorang anak berusia empat tahun yang baru saja mempunyai adik, bertanya kepada ibunya tentang dari mana adiknya dilahirkan, mengapa sesudah adiknya lahir perut ibu tidak besar lagi, dsb. Ketika setiap pertanyaan itu dijawab, maka akan muncul lagi pertanyaan yang lain hingga (mungkin) pada suatu saat orang tua atau mereka yang menjadi sasaran pertanyaan anak kecil (orang dewasa) terpaksa memberikan jawaban yang penuh otoritas. Dan apabila hal itu yang terjadi maka secara tidak disadari matilah kecenderungan filosofis dalam diri anak. Pada akhirnya itu semua berujung pada hilangnya minat mereka untuk mencari kebenaran dan mereka menjadi terbiasa untuk menerima segala sesuatu tanpa perlu mempertanyakannya lagi.

Filsafat dimulai dengan bertanya-tanya
Pada awalnya, sekitar abad 6 SM filsafat Barat lahir dengan munculnya Thales dari Miletos. Sekitar abad 6 SM pula, pengaruh Sokrates dan Plato dalam dunia filsafat mulai kentara. Pada saat itu, filsafat telah malang melintang selama kurang lebih 200 tahun. Ironisnya, hampir selama itu pula filsafat masih berjalan di tempat. Sokrates sama sekali tidak menuliskan sesuatu. Seringkali sulit untuk mengetahui kapan tokoh itu benar-benar mengajukan gagasan-gagasan yang diekspresikannya sendiri, dan kapan hanya bertindak sebagai penyuara gagasan Plato. Sokrates dan Plato berbeda dengan para filsuf di masa sebelumnya. Para filsuf sebelum Sokrates dan Plato dikenal sebagai filsuf Pra-Sokrates. Sepanjang sejarah perkembangan filsafat, filsuf Pra-Sokrates yang paling cemerlang adalah Pythagoras. Ia bukan sekedar filsuf yang menemukan dalil (teorema) pythagoras, melainkan juga berperan sebagai pemimpin religius, ahli matematika, ahli mistik, dan ahli gizi. Menandai era skolastik, pada abad 13, masa pertengahan filsafat ditandai dengan lahirnya tulisan Thomas Aquinas yang berisi komentar-komentarnya mengenai Aristoteles. Hingga akhirnya mulai bermunculan para filsuf dengan karya-karya filsafat mereka.

Apa itu filsafat? Filsafat sesungguhnya adalah metode, yaitu cara, kecenderungan, sikap bertanya, tentang segala sesuatu. Filsafat mengajak kita semua untuk mempertanyakan segala sesuatu, mempersoalkan, mengkaji, dan mendalami hidup ini dalam segala aspeknya. Semua manusia yang selalu bertanya terus-menerus dan semua orang yang selalu cenderung mengajukan pertanyaan atas apa saja sesungguhnya adalah filsuf karena dengan mengajukan pertanyaan atas apa saja ia sudah berfilsafat. Bagi seorang anak kecil, sebagaimana halnya pula bagi filsuf, dan sesungguhnya bagi manusia pada umumnya, segala sesuatu yang ada dalam hidup ini adalah sebuah masalah, sebuah pertanyaan, sebuah teka-teki, dan merupakan sesuatu yang perlu dipahami.

Kritis sebagai salah satu sifat dasar Filsafat
Dalam filsafat segala sesuatu yang mungkin dapat dipikirkan manusia akan memunculkan pertanyaan untuk ditelaah. Setelah terjawab masalah yang satu, mulailah muncul masalah yang lain untuk dicari pemecahannya, dan seterusnya. Maka akan terjadilah proses bertanya dan menjawab dan bertanya dan menjawab terus menerus tanpa henti. Dan itulah filsafat, sebuah quest, sebuah pencarian, sebuah question tentang berbagai ide. Dari sana diketahui bahwa salah satu sifat dasar filsafat adalah kritis. Seseorang yang memiliki sikap kritis dalam dirinya muncul keinginan untuk mempertanyakan apa saja, tidak puas dengan jawaban yang ada, tidak percaya akan apa saja, dan selalu ingin tahu lebih dari yang sudah diketahui.

De omnibus dubitandum!” Rene Descrates mendefinisikan sikap kritis sebagai sikap yang menyangsikan dan meragukan segala sesuatu yang dianggap sebagai metode utama filsafat, dan ilmu pengetahuan pada umumnya. Maka bagi setiap orang yang kritis, hidup dihadapi dengan selalu mengajukan tanda tanya karena ia menganggap hidup bukan sekedar “given” (hal yang diberikan tanpa perlu dipersoalkan), melainkan suatu paradoks, teka-teki, masalah, yang perlu dipecahkan. Hal itu senada dengan apa yang diungkapkan oleh tokoh filsafat dunia, Sokrates, bahwa “hidup yang tidak dikaji tidak layak dihidupi.”

Ilmu Pengetahuan
Sebagaimana dalam filsafat, dalam semua ilmu pun orang selalu mempertanyakan segala sesuatu. Mengapa demikian? Alasan pertama adalah sikap dasar selalu bertanya yang menjadi ciri khas filsafat memang kemudian merasuki segala cabang ilmu, yang semula bersatu dengan filsafat. Karena itu, filsafat sering disebut sebagai the mother of science. Ke dua, terkait dengan itu ada perbedaan dasar antara sikap bertanya dalam filsafat dan sikap bertanya dalam semua ilmu lainnya. Dalam filsafat kita mempertanyakan apa saja dari berbagai sudut, khususnya dari sudut yang paling umum dan mendasar menyangkut hakikat, inti, pengertian paling mendasar. Sedangkan dalam ilmu pengetahuan, yang dipertanyakan hanya satu saja kenyataan yang digumuli oleh ilmu itu dan dipertanyakan dari sudut pandang ilmu yang bersangkutan. Jadi, yang dipersoalkan filsafat adalah seluruh yaitu kenyataan dari sudut pandang yang paling mendasar.

Ilmu pengetahuan muncul karena apa yang sudah diketahui secara spontan dan langsung, disusun dan diatur secara sistematis dengan menggunakan metode yang bersifat baku. Dari situ ilmu pengetahuan didefinisikan sebagai keseluruhan sistem pengetahuan manusia yang telah dibakukan secara sistematis. Ini berarti ilmu pengetahuan lebih bersifat sistematis dan reflektif, sedangkan pengetahuan lebih bersifat spontan. Karena sifatnya yang sistematis dan reflektif serta telah dibakukan, maka ilmu pengetahuan benar-benar masuk akal. Ilmu pengetahuan dapat diterima atau dikritik oleh semua orang yang dapat menggunakan akalnya karena pada tingkat ini orang dapat mempertanyakan, mempersoalkan, mengkritik, menuntut pembuktian dan pertanggungjawaban atas kebenaran ilmu tersebut.

Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Ilmu berkembang begitu pesat demikian juga jumlahnya. Spesialisasi ilmu pada satu bidang telaah memungkinkan analisis yang makin cermat dan seksama sehingga objek kajian dari disiplin keilmuan itu pun menjadi semakin terbatas. Pada dasarnya cabang-cabang ilmu tersebut berkembang dari dua cabang utama yakni filsafat alam yang kemudian menjadi rumpun ilmu-ilmu alam (the natural sciences) dan filsafat moral yang kemudian berkembang ke dalam cabang-cabang ilmu sosial (the social sciences). Ilmu-ilmu alam membagi diri lagi menjadi dua kelompok yakni ilmu alam (the physical sciences) dan ilmu hayat (the biological sciences). Ilmu alam bertujuan mempelajari zat yang membentuk alam semesta yang kemudian bercabang lagi menjadi fisika (mempelajari massa dan energi), kimia (mempelajari substansi zat), astronomi (mempelajari benda-benda langit), dan ilmu bumi (atau the earth sience yang mempelajari bumi kita ini). Tiap cabang ilmu itu kemudian membentuk ranting-ranting ilmu yang baru. Berbeda dengan ilmu alam, ilmu sosial berkembang agak lambat. Secara pokok, cabang utama ilmu sosial adalah antropologi, psikologi, ekonomi, sosiologi, dan ilmu politik. Kemudian cabang-cabang ilmu sosial ini juga melebar dalam cabang-cabang ilmu yang lebih spesifik kajian studinya.

Perkembangan ilmu pengetahuan yang begitu pesat itu tidak bisa dilepaskan dari adanya metode eksperimen yang menjadi jembatan antara penjelasan teoretis yang hidup di alam rasional dengan pembuktian yang dilakukan secara empiris. Eksperimen ini dimulai oleh ahli-ahli kimia yang pada mulanya didorong oleh tujuan untuk mendapatkan “obat ajaib untuk awet muda” dan “rumus membuat emas dari logam biasa.” Namun, lambat laun tujuan itu berkembang menjadi paradigma ilmiah. Di dunia barat, metode eksperimen ini diperkenalkan oleh filsuf Roger Bacon (1214-1294) dan kemudian dimantapkan sebagai paradigma ilmiah atas usaha Francis Bacon (1561-1626). Perkembangan metode eksperimen ini memberi pengaruh penting terhadap cara berpikir manusia sebab dengan demikian dapat diuji berbagai penjelasan teoretis apakah sesuai dengan kenyataan empiris atau tidak.

Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan ilmu pengetahuan. Dalam metode ilmiah terdapat proses berpikir dan bertanya tentang sesuatu permasalahan yang ingin dicari jawabnya. Karenanya, pertanyaan-pertanyaan yang secara empiris belum dikenali akan bermunculan dan justru inilah esensi dari penemuan ilmiah yakni bahwa kita mengetahui sesuatu yang belum pernah kita ketahui dalam pengkajian ilmiah sebagai hasil dari kesimpulan yang ditarik. Dengan adanya metode ilmiah ini diharapkan ilmu pengetahuan yang dihasilkan memiliki sifat rasional dan teruji sehingga dapat diandalkan. Untuk mencapai hal itu, metode ilmiah menggabungkan cara berpikir deduktif dan induktif. Berpikir deduktif memberikan sifat yang rasional kepada pengetahuan ilmiah dan bersifat konsisten terhadap pengetahuan yang telah dikumpulkan sebelumnya.

Menurut Ritchie Calder, kegiatan ilmiah dimulai ketika manusia mengamati sesuatu. Dengan proses mengamati maka akan muncul pertanyaan: “Mengapa manusia mengamati sesuatu?” Ternyata kita mulai mengamati objek tertentu kalau kita memang mempunyai perhatian tertentu pada objek tersebut. Perhatian tersebut menurut John Dewey disebut sebagai suatu masalah atau kesukaran yang dirasakan bila kita menemukan sesuatu dalam pengalaman kita yang menimbulkan pertanyaan. Dapat disimpulkan bahwa proses berpikir dimulai karena ditemukannya masalah yang berasal dari dunia empiris. Masalah itu terlahir dalam banyak pertanyaan yang kemudian akan dicari jawabnya dengan proses pengkajian ilmiah.

Dengan perkembangan metode ilmiah dan diterimanya metode ini sebagai paradigma oleh masyarakat keilmuan, maka sejarah mencatat perkembangan ilmu pengetahuan yang begitu pesatnya. Dirintis oleh Copernicus (1473-1543), Kepler (1571-1630), Galileo (1564-1642), dan Newton (1642-1727). Ilmu memperoleh momentumnya pada abad 17 dan kemudian tinggal landas. Whitehead menyebutkan periode antara 1870-1880 sebagai titik kulminasi perkembangan ilmu di mana Helmholtz, Pasteur, Darwin, dan Clerk-Maxwell berhasil mengembangkan penemuan ilmiahnya.

Sikap kritis mendorong lahirnya Ilmu Pengetahuan(?)
Dalam metode ilmiah pada langkah pertama peneliti diajak untuk merumuskan permasalahan yang berupa pertanyaan. Berangkat dari pertanyaan itu maka penelitian untuk menemukan jawaban ilmiah dimulai. Sebagaimana telah diuraikan panjang lebar di awal, proses bertanya dan menemukan masalah merupakan unsur yang termuat dalam sikap kritis. Dari pertanyaan itu kemudian ada proses berpikir untuk mencari jawab. Proses berpikir dilanjutkan dengan eksperimen sebagai pengujian untuk mendapatakan data empiris. Dan akhirnya ditemukan suatu pengetahuan baru yang nantinya akan ditata secara sistematis dan dibakukan sehingga menjadi suatu ilmu pengetahuan.

Setidaknya ada dua alasan yang mendasari mengapa sikap kritis dirasa masih relevan dalam mendorong berkembangnya ilmu pengetahuan. Pertama, sikap kritis membawa seseorang untuk tidak selalu mudah percaya, tidak mau menerima begitu saja pandangan dan pendapatnya sendiri (kecenderungan yang merupakan ciri dari sikap ilmiah). Ke dua, sikap kritis (mulai dari melihat segala sesuatu sebagai masalah, teka-teki, pertanyaan hingga mencari secara ilmiah-teoretis apa yang menjadi sebab dari masalah itu) yang diperkenalkan dalam metode ilmiah sangat berguna tidak hanya bagi ilmuwan tapi juga siapa saja yang berminat untuk mencari ilmu pengetahuan, khususnya dalam penelitian ilmiah.

Ilmu pengetahuan tidak hanya bersifat puritan-elitis, melainkan juga pragmatis. Dalam pengertian, ilmu pengetahuan tidak berhenti sekedar memuaskan rasa ingin tahu manusia, tetapi juga membantu manusia untuk memecahkan berbagai persoalan hidup yang dihadapi. Pada praktiknya, ilmu pengetahuan memang dibutuhkan untuk menjawab setiap permasalahan dalam hidup sehari-hari, dan tentunya juga selau diharapkan membawa tawaran kemudahan baru bagi manusia untuk menjalani hidup. Karenanya selalu dan terus-menerus dibutuhkan sikap kritis yang membuat ilmu pengetahuan menjadi baru dan semakin relevan dalam menghadapi setiap persoalan, sehingga sekurang-kurangnya ilmu pengetahuan semakin berkontribusi bagi peningkatan kesejahteraan manusia.

Referensi

Keraf, A. Sonny dan Mikhael Dua., Ilmu Pengetahuan Sebuah Tinjauan Filosofis, Yogyakarta: Kanisius, 2001

S. Suriasumantri, Jujun., Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2005

Strathern, Paul., 90 Menit Bersama Plato, Jakarta: Erlangga, 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s