membaca, diskusi, dan menulis untuk membentuk diri menjadi makhluk berbudi

Bangkit dan Bergeraklah! (Refleksi Orang Muda Katolik)

Menilik Karakter Mahasiswa Katolik Masa Kini

Dalam sebuah kesempatan rapat tim misa Wisma Drijarkara, pernah muncul celetukan menyangkut arti kebangkitan nasional. Waktu itu teman-teman mahasiswa yang tergabung dalam tim misa mencoba merumuskan tema perayaan ekaristi yang kebetulan dekat dengan momentum hari kebangkitan nasional. Celetukan yang sempat mengagetkan itu muncul ketika pertanyaan spontan mengenai arti kebangkitan nasional tidak dapat dijawab oleh teman-teman mahasiswa. Bahkan disebutkan pula bahwa peristiwa kebangkitan nasional yang setiap tanggal 20 Mei diperingati berlalu begitu saja. Teman-teman mahasiswa juga merasa tidak mempunyai roh dan ternyata tidak begitu paham esensi peringatan kebangkitan nasional. Ironis sekaligus memprihatinkan.

Berbicara tentang arti kebangkitan nasional bagi mahasiswa Katolik tidak bisa lepas dari persoalan mengenai siapa mahasiswa Katolik itu sendiri. Apa yang dialami teman-teman tim misa, menjadi sebuah potret kecil yang menggambarkan siapa mahasiswa Katolik masa kini pada umumnya. Sebagian ada yang sudah mulai kurang peduli terhadap apa yang terjadi di luar persoalan pribadi mereka sebagai seorang muda, tetapi bersyukur pula rupanya masih ada segelintir teman-teman mahasiswa Katolik yang mau ikut prihatin ketika persoalan di negara ini begitu sesak mendera kaum tertindas. Dua karakter kontras mahasiswa Katolik yang tersebut di atas dicoba untuk diperlawankan lagi agar lebih mudah ditelaah.

Dari pengamatan terbatas untuk melihat dan mencoba mengenal karakter mahasiswa Katolik di kampus, muncul dua karakter atau mungkin lebih tepat disebut kecenderungan yang  tercuat dari pribadi mahasiswa Katolik masa kini.

Pertama, mahasiswa Katolik yang merasa sangat terpuaskan ketika mampu eksis dalam peer group mereka. Mau menjadi follower yang rela memuja idola, bahkan make over penampilan untuk sekedar “mirip” sang ‘Idol’. Mereka, mahasiswa Katolik yang demikian kalau boleh diistilahkan menjadi Generasi ”Idol” yang nyaman dalam situasi berikut ini:

  • lebih suka hang out bareng teman-teman entah ke mall, tempat nongkrong, atau sekedar ’kongko-kongko’
  • mereka biasa punya peer group (dalam istilah Sosiologi bisa disebut Klik atau lebih ekstrem lagi Geng) dan sangat menghargai jalinan pertemanan
  • relatif loyal terhadap kelompok mereka (bersifat groupies)
  • kuliah lebih dilihat sebagai kewajiban untuk menyenangkan orang tua, alhasil sering cabut, tidak mengerjakan tugas dengan optimal, prestasi belajar pas-pasan. Dorongan kuliah masih dominan timbul dari faktor eksternal (orang tua, peraturan, lingkungan)
  • yang menjadi buronan adalah semua yang berbau have fun
  • keterlibatan dalam komunitas mahasiswa Katolik di kampus sekedar anggota saja. Mereka kurang berkontribusi dalam komunitas mahasiswa Katolik di kampus
  • terlihat di gereja untuk mengikuti misa (selain misa jarang muncul di gereja
  • cenderung tidak tertarik untuk tahu berbagai permasalahan nasional; indikasinya  kurang membaca koran, lebih suka membaca komik

Kedua, mahasiswa Katolik yang cenderung mencuatkan diri sebagai pribadi yang ”altruist”. Altruist dalam arti yang luasnya “suka mementingkan kepentingan orang lain”. Barangkali mereka cocok disebut Generasi “Cool”. Mereka yang masuk dalam kawanan orang muda itu teridentifikasi “enjoy” dengan hal-hal berikut:

  • Kegiatan bersama teman-teman dalam pergaulan disikapi sebagai bagian kebutuhan sosial yang dipenuhi secara wajar
  • Tergabung dalam kelompok yang bisa menjadi wadah bagi ekspresi bakat dan minat mereka
  • Kuliah juga disadari sebagai tugas yang perlu dilaksanakan secara baik dan bertanggungjawab
  • Mereka tertarik untuk ikut terlibat dan berkontribusi dalam komunitas mahasiswa Katolik di kampus
  • Ada pula yang selain aktif dalam organisasi mahasiswa Katolik di kampus juga aktif dalam komunitas pemuda di gereja, atau mungkin satu di antaranya
  • Karena sudah akrab dengan diskusi dan terlatih memikirkan persoalan bersama dalam organisasi, isu-isu sosial kebangsaan juga menjadi suatu hal yang menarik untuk mereka pelajari

Namun, meskipun mahasiswa Katolik yang teridentifikasi sebagai Generasi “Cool” cukup banyak terlibat dalam berbagai organisasi kemahasiswaan di kampus, rupanya ketertarikan mereka untuk berkecimpung dalam organisasi perpolitikan di kampus masih rendah. Mereka agaknya tidak tertarik untuk terlibat dalam organisasi politik mahasiswa “ekstra kampus”. Misal saja ketertarikan teman-teman mahasiswa Katolik FISIP Undip. Mereka lebih memilih bergabung dalam himpunan mahasiswa jurusan ketimbang menjadi kader organisasi ekstra sembari duduk dalam kepengurusan BEM atau Senat.

Sejarah Inspirasi Kebangsaan Kaum Muda

Ada banyak tokoh mahasiswa yang namanya sudah terukir dalam catatan sejarah. Perjuangan mereka terbukti sudah menciptakan perubahan bagi republik ini. Sebut saja Soe Hok Gie yang pada era 1966 begitu teguh pada prinsip berjuang lewat penanya. Atau Auwjong Peng Koen yang kemudian lebih dikenal PK. Ojong dengan perjuangannya menyuarakan persamaan hak bagi masyarakat Tiong Hoa. Pada 1954, PK Ojong bersama Siauw Giok Tjhan, Yap Thiam Hien, Go Gien Tjwan dan Oei Tjoe Tat tergabung dalam Baperki yang fokus memperjuangkan hak masyarakat Tiong Hoa di Indonesia.

Profesor Syafii Ma’arif melalui artikel berjudul “Dulu Tulus Kini Tidak” yang dimuat dalam majalah Basis edisi Ketulusan Mei-Juni 2000, menulis beberapa tokoh muda Katolik seperti IJ Kasimo, Herman Johannes, AM Tambunan, dan J Leimena bersama-sama tokoh Masyumi dan PSI mencoba melawan sistem politik otoritarian Soekarno pada era Demokrasi Terpimpin (1959-1965/66). Ditulis pula Natsir yang tokoh Masyumi dengan IJ Kasimo yang aktivis Partai Katolik membangun pondasi persahabatan yang tulus. Profesor Syafii Ma’Arif mengatakan persahatan itu terpupuk oleh IDEALISME & INTEGRITAS PRIBADI. Mereka adalah MORALIS SEJATI, yang peka membaca tanda-tanda zaman realitas rahim bangsanya.

Kita juga pasti masih ingat detik-detik menjelang proklamasi kemerdekaan bangsa ini. Tanggal 16 Agustus tokoh-tokoh muda kita mengambil insiatif untuk mengamankan Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok. Padahal satu minggu sebelum proklamasi kemerdekaan, tanggal 9 Agustus 1945, Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta dan Dr. Radjiman Wediodiningrat singgah ke Taiping yang terletak di Semenanjung Malaya. Di Taiping mereka mengadakan pertemuan dengan para pemimpin gerakan kebangsaan Melayu untuk membicarakan upaya persiapan kemerdekaan. Dan mereka bersepakat untuk menyatakan kemerdekaan bangsa pada tanggal 22 Agustus 1945. Namun, atas desakan teman-teman muda waktu itu, akhirnya proklamasi kemerdekaan dinyatakan lebih awal dari kesepakatan sebelumnya pada tanggal 17 Agustus 1945.

Mereka, kaum muda serta mahasiswa pada zaman itu telah menorehkan sejarah perjuangan. Sumbangan mereka bagi negeri ini sangatlah besar. Yang terutama bagi mahasiswa masa kini adalah inspirasi dan nilai keteladanan yang mereka sumbangkan. Dalam kondisi yang serba menghimpit, dengan penuh semangat Soe Hok Gie, Auwjong Peng Koen, IJ Kasimo dan teman-teman era 45 berjuang membuat sebuah perubahan ke arah lebih baik. Kebangkitan nasional mewujud dalam setiap derap perjuangan mereka.

Mahasiswa zaman ini, sekurang-kurangnya diri saya pribadi, menjadi perlu berintrospeksi dan menata diri kembali. Berbagai tantangan memang seakan tak kuasa dibendung dan akan datang bertubi-tubi. Pemandangan yang terjadi saat ini saya baca sebagai akibat dari beberapa situasi:

  1. Mahasiswa Katolik masa 2000-an tidak mengalami revolusi kemerdekaan yang membakar semangat ‘heroic’. Pun euforia penumbangan rezim Orde Baru telah menipis aroma perjuangannya. Heroisme dan nyali perjuangan ala Soe Hok Gie atau IJ Kasimo menjadi jarang dipilih.
  2. Terpaan media dalam berbagai bentuk komoditinya jeli menawarkan pola hidup hedonis, konsumeristik, dan serba instan. Keteguhan prinsip dan kesederhanaan hidup yang dicontohkan PK. Ojong semakin tidak diminati.
  3. Biaya kuliah yang relatif mahal ditambah lagi kesempatan kerja yang terbatas mengakibatkan para mahasiswa masa ini lebih memilih mengabaikan pengembangan idealisme untuk terlibat mengambil peran dalam kondisi sekitar.
  4. Kekuatan ekonomi neoliberal di era globalisasi menyebabkan mahasiswa masa ini cenderung mengintegrasikan dirinya tanpa memberi peluang untuk bersikap mengkritisi.

Menjadi tidak mengherankan lagi apabila arti dan semangat kebangkitan nasional bagi mahasiswa semakin kabur jawabnya. Peristiwa dan kondisi memprihatinkan bangsa ini pun tidak dipahami. Permainan kongkalikong para elite penguasa dan elite kapitalis dalam pengadaan tender minyak, energi listrik, gas alam, serta telekomunikasi menjadi sebuah isu yang tidak menarik untuk dipahami. Perkembangan kasus korupsi yang sudah mulai ditangani KPK atau rekening gemuk para petinggi Polri bukanlah topik yang laku dalam obrolan. Diskusi ilmiah atau diskusi yang mengangkat tema-tema kebangsaan kembali hanya dihadiri oleh mahasiswa yang itu-itu saja.

Bangkit dan Bergeraklah!

Tokoh-tokoh pejuang yang pernah mengukir sejarah bagi bangsa ini banyak yang berasal dari kalangan mahasiswa Katolik. Hasil perjuangan mahasiswa Katolik masa lalu membuktikan kesetiaan mereka dalam mengemban tanggung jawabnya. Tanggung jawab tersebut tidaklah ringan. Mahasiswa Katolik sebagai pribadi bertanggungjawab kepada keluarga, kepada komunitasnya di kampus, kepada gereja secara teritorial (paroki atau stasi), kepada masyarakat dan bangsa Indonesia, serta mengemban tanggung jawab sebagai pengikut Kristus.

Dengan mengemban tanggung jawab itu mereka akan semakin memperkuat identitasnya sebagai mahasiswa Katolik. Identitas atau identity secara harfiah berarti ciri-ciri, tanda (simbol) atau jati diri yang melekat pada seseorang atau sesuatu yang membedakan dengan yang lain. Identitas sebagai mahasiswa Katolik berarti ciri-ciri yang melekat pada diri seorang mahasiswa Katolik yang membedakannya dengan mahasiswa yang lain. Identitas tersebut nantinya akan diikuti oleh konsekuensi yang menyertai berupa tanggung jawab serta tantangan yang harus dihadapi.

Mengakhiri refleksi ini saya ingin meneguhkan diri saya pribadi sebagai mahasiswa Katolik sembari mengajak kawan-kawan semua untuk bangkit dan bergerak dari suasana yang menggelayut saat ini. Untuk itu saya ingin membagikan kutipan dari sebuah tulisan Mgr. J Pujasumarta yang berjudul Teologi Inkarnasi.

Kedatangan Yesus ”dalam daging” disebut secara teologis penjelmaan, ”inkarnasi” (Yoh. 1:14), dan kematian-Nya ”dalam daging” disebut pengosongan diri, ”kenosis” (Fil. 2:7). Bila Gereja menemukan jati dirinya dalam Yesus Kristus yang menjadi daging ”in carne”, maka seperti Kristus  Gereja pun harus berani mengalami nasib menjadi korban untuk mewartakan Kerajaan Allah yang memerdekakan. Dengan demikian Gereja berada pada pihak manusia yang menjadi korban ketidakadilan. Jati diri Gereja ini hendaknya diwujudkan dalam habitus baru, yaitu solider dengan korban. Untuk itu perlu dikembangkan spiritualitas martyria.

Saya, Anda, kita semua sebagai mahasiswa Katolik adalah Gereja. Karena itu menjadi semakin jelaslah ke mana kita harus melangkah. Bangkit dan bergerak menjadi pribadi yang percaya diri menatap realitas zaman, tampil sebagai Generasi ”Cool” yang ”sembada”. Semoga mimpi ini menjadi pasti: lahir mahasiswa dan orang muda Katolik yang bangga memupuk idealisme dan tekun memperjuangkan integritas pribadi, menjadi seorang moralis sejati.

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s