membaca, diskusi, dan menulis untuk membentuk diri menjadi makhluk berbudi

Kontestasi President Idol

Tanggal 8 Juli 2009 ini, Indonesia memilih pemimpin tertingginya yang akan menduduki kursi RI-1. Dalam tiga bulan terakhir, tiga kontestan pasangan calon presiden dan wakil presiden telah beradu taktik dan strategi merebut simpati rakyat – para konstituen mereka. Muncullah suguhan menarik pesta demokrasi ala Indonesia bertajuk President Idol.

Hampir semua stasiun televisi nasional menyajikan liputan seputar figur Megawati-Prabowo, SBY-Boediono, dan Jusuf Kalla-Wiranto lengkap dengan kontroversi serta jualan politik mereka. Media dengan lihai mengemas isu politik menjelang pilpres dan menyedot sebesar-besarnya atensi publik.

Berawal dari kemenangan Partai Demokrat dalam Pemilu Legislatif, berita politik mulai gencar menghiasi layar kaca dan headline surat kabar. Kekisruhan Daftar Pemilih Tetap dan tuntutan para caleg yang gagal menuju parlemen menjadi informasi yang begitu banyak dimuat oleh media. Menyusul kemudian berita seputar bursa pasangan capres-cawapres yang mulai ramai. Lobi-lobi politik dengan berbagai kepentingan yang ada di baliknya disajikan sebagai sebuah tontonan layaknya pertunjukan wayang semalam suntuk.

Berdasarkan hasil Pemilu Legislatif, sembilan partai politik dinyatakan lolos ambang batas minimal parlemen. Kemudian muncul nama-nama kandidat presiden beserta spekulasi wakil presiden pendamping mereka. Hiruk pikuk politik terjadi. Masyarakat sebagai audience media merespon dengan keingintahuan menggebu, tetapi ada juga kelompok publik yang acuh seolah tak mau tahu. Mereka yang mau tahu, asik membicarakan satu potret kehidupan politik negeri ini di sudut-sudut warung kopi.

Akhirnya terjawablah tanda tanya, spekulasi, dan tebak-menebak seputar kandidat presiden dan wakilnya yang akan memimpin dua ratusan juta manusia di republik ini. Kandidat yang mendeklarasikan diri pertama kali sebagai capres dan cawapres adalah pasangan Jusuf Kalla-Wiranto. Dengan mengambil akronim JK-Win, pasangan dari koalisi Partai Golkar dan Hanura ini mengusung tagline “Lebih cepat, lebih baik dengan hati nurani.” Sembari mengenang dua proklamator RI, pasangan JK-Win memilih tugu proklamasi sebagai tempat untuk menyatakan diri mereka maju dalam Pilpres 2009.

Sejarah politik kembali berlanjut. Dua tokoh yang semula diprediksi tidak akan berjalan bersama, yakni Megawati dari PDI Perjuangan dan Prabowo dari Partai Gerindra menyatakan siap maju sebagai kandidat presiden dan wakil presiden. Tidak kalah heboh dengan pasangan JK-Win, Mega-Prabowo mendeklarasikan diri sebagai pasangan capres-cawapres di Tempat Pembuangan Akhir Bantar Gebang, Bekasi. Jargon sebagai pasangan yang setia membela wong cilik serta akan berjuang untuk petani dan nelayan menjadi senandung merdu yang selalu mereka kumandangkan.

Pasangan ketiga lahir dari Koalisi Biru. Partai Demokrat sebagai pemenang Pemilu Legislatif mengusung Susilo Bambang Yudhoyono. Meski menggandeng PAN, PKB, PPP, PKS, dan partai kecil yang lain, SBY memutuskan untuk meminang calon wakil presiden dari kalangan non partai. Drama politik dan lobi-lobi panas kembali disuguhkan. Masyarakat penyuka politik dibuat penasaran dan bertanya-tanya siapa gerangan cawapres yang akan mendampingi SBY. Dan rupanya SBY lebih memilih Boediono. Mereka mendeklarasikan diri sebagai pasangan capres-cawapres di Sasana Budaya Ganesha Bandung. Suasana bergelora dipenuhi gegap gempita simpatisan memantapkan langkah untuk melanjutkan pemerintahan.

Genderang perebutan kursi panas RI-1 ditabuh. Ketiga pasangan capres-cawapres berlomba meningkatkan elektabilitas mereka dengan beriklan baik di televisi, internet, maupun media cetak. Dari hari ke hari tim sukses masing-masing calon semakin gencar mengiklankan kandidat yang mereka usung. Publik menjadi akrab dengan tagline ”Lebih cepat, lebih baik!” yang diusung oleh pasangan JK-Win. Mereka semakin mengenal Prabowo yang dicitrakan dekat dengan petani dan nelayan. Di banyak tempat sering terdengar jingel lagu ”SBY Presidenku”. Demikianlah iklan politik yang merebak mewarnai media menjadi santapan sehari-hari dan mengisi ruang santai keluarga Indonesia.

Siapakah yang akan menang? Setelah tanggal 8 Juli bisa jadi pertanyaan tersebut bisa terjawab, setidaknya melalui penghitungan cepat yang marak dilakukan oleh banyak lembaga survey. Uniknya, preferensi pemilih Indonesia sedikit banyak seakan terpengaruh oleh kemasan citra personal. Kehebohan program Idola produksi salah satu stasiun televisi, entah Indonesian Idol, Idola Cilik, dls teradopsi dalam beberapa acara talkshow dan debat politik.

Sembari mengingat, dari tiga kali debat capres dan dua kali debat cawapres, stasiun televisi penyelenggara selalu mengadakan polling sms. Pemirsa yang berminat bisa mengirim sms untuk memilih figur capres atau cawapres favorit mereka dengan membayar premium call Rp2.000,00 per sms. Hasil polling ini pun ditayangkan di akhir acara, mirip dengan program tayangan bertajuk Idol.

Bahkan hingga debat capres final yang diselenggarakan oleh KPU bekerjasama dengan RCTI, polling sms ini tetap berjalan. SBY selalu memimpin peroleh suara versi polling sms dalam setiap kesempatan debat. Pada debat final yang lalu, presenter menginformasikan hasil polling dan mengatakan hasil tersebut hanya mewakili 2% dari keseluruhan jumlah pemilih. Dikatakan pula, hasil polling tersebut tidak dimaksudkan untuk mengarahkan suara pemilih pada salah satu calon. Apabila demikian, lalu apa signifikansi dari polling sms capres dan cawapres tersebut?

Dari hitung-hitungan ekonomi, jelas ada motivasi profit. Dengan harga premium call Rp.2.000,00 per sms akan menghasilkan uang berlipat ganda ketika ada 1.000.000 pengirim sms. Keuntungan yang didapat tentu menjadi pundi-pundi yang nominalnya hanya diketahui oleh pihak stasiun televisi penyelenggara, operator penyelenggara polling, dan atau bisa jadi KPU.

Selanjutnya, lepas dari hitung-hitungan keuntungan, polling sms capres-cawapres bisa dikatakan berperan membodohkan publik. Secara tidak langsung, publik terdidik untuk memilih calon presiden dan wakilnya dengan pertimbangan suka atau tidak suka, layaknya menentukan sang idola. Padahal, di balik keputusan memilih presiden dan wakilnya perlu ada usaha mengenal rekam jejak, mencermati visi dan misi mereka, serta menimbang kapasitas dan akuntabilitas setiap calon. Dalam logika memilih idola, aspek-aspek tersebut jelas terabaikan.

Idola akan dipilih karena ia disukai, menarik, dan dianggap berkesan. Polling sms menjadi satu indikasi adanya pengidolaan calon presiden dan wakil presiden. Apabila tren itu yang berkembang, negeri ini masih selamat sepanjang sang President Idol memang merupakan figur negarawan dan bercita-cita menyejahterakan rakyat. Namun, ketika sang President Idol hanyalah tokoh yang cakap memoles diri, hancurlah negeri ini.

Bangsa ini jelas butuh presiden yang berikhtiar membangun negeri. Semoga siapa pun nanti tokoh yang terpilih, ia mampu membawa Indonesia menuju kejayaan. Dengan demikian lima tahun mendatang keadaan menjadi semakin baik dan lahirlah Presiden Teridola bukan sekedar Calon Presiden Idola.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s