membaca, diskusi, dan menulis untuk membentuk diri menjadi makhluk berbudi

Mewarisi Nilai Pluralis Multikultural Gus Dur

Itulah Gus Dur, sosok yang memiliki komitmen kuat tentang pluralisme Indonesia. Dia juga pembawa pemikiran Islam modern dalam semangat tradisional. Sebab itulah mungkin yang menyebabkannya dituduh terlalu liberal dalam pikiran tentang keagamaan.”(Suara Merdeka, 29 Januari 2010)

Dalam kutipan pernyataan itu, Rosi Sugiarto, penulis buku Keajaiban Gus Dur “Sang Manusia Super”, secara langsung mengungkap kesannya terhadap Gus Dur. Tidak hanya pemikiran beliau yang dianggap mencerahkan, segala unsur tanda yang ada pada diri Gus Dur pun dianggap penuh makna. Maka dari itu melalui bukunya, Rosi mencoba mengurai keunikan dan keajaiban mantan Presiden RI ke empat itu, semasa beliau masih hidup. Ia mencoba menerjemahkan segala unsur semiotik angka yang memenuhi kehidupan Gus Dur.

Rosi telah mencoba merangkai serpih-serpih kehidupan Gus Dur dan menjadi representasi orang-orang yang menaruh perhatian besar pada figur pemihak keberagaman itu. Warisan nilai dan ajaran dari tokoh besar kaum Nahdliyin itulah yang hingga kini patut menjadi cermatan di tengah rongrongan sikap eksklusifisme yang kian hari kian mengancam. Semangat menghargai keberagaman serta keterbukaan untuk menjalin komunikasi dan kerja sama antarkelompok dengan perbedaan latar belakang menjadi jalan menuju keadilan, kesejahteraan dan perdamaian.

Indonesia dengan potensi kekayaan alam dan sumber daya manusianya secara historis adalah Negara yang plural; memiliki 6000-an pulau yang ditempati oleh 300-an suku serta menampilkan keberagaman budaya dengan 400-an bahasa dan lebih dari 6 agama dan kepercayaan. Sebagai bangsa yang pernah gilang-gemilang dalam puncak kejayaan Nusantara, kita tidak cukup hanya sekedar tahu akan konteks pluralitas ini. Kebesaran kita sebagai bangsa sesungguhnya terletak pada bagaimana kita sadar dan mampu hidup bersama di dalamnya, mengalami perbedaan dalam kesamaan (to experience difference in equality), serta bersedia bekerja sama untuk kemaslahatan bersama (Ali, 2003: 94).

Berpijak dari pengalaman yang pernah penulis rasakan, hidup dalam situasi heterogen dengan perbedaan latar belakang agama yang berbeda misalnya, tidaklah mudah. Seringkali muncul rasa canggung, apalagi ketika minority syndrome lebih menguasai diri dalam pergaulan dan proses interaksi sosial. Dalam situasi tersebut, apa yang ditulis Muhamad Ali menjadi tepat. Bahwa seorang multikulturalis tidak beragama secara mutlak-mutlakan. Artinya, ketika klaim kebenaran yang dianutnya dilihat dari luar, maka ia menjadi tidak mutlak. Ini bisa disebut dengan sikap keberagaman ‘relatively absolute’ – dengan mengatakan, ”Apa yang saya anut memang benar dan saya berjuang untuk mempertahankannya, tetapi tetap saja relatif ketika dihubungkan dengan apa yang dianut orang lain, karena orang lain melihat apa yang saya anut dari kaca mata anutan orang lain itu.”(2002: 79)

Tragedi Malino I Desember 2001 dan Malino II Februari 2002 di Maluku, perang antarsuku di Sampit yang melibatkan Suku Dayak dan Madura 2001, dan banjir darah anyir di Legian akibat pengeboman 2 Oktober 2002, sudahlah cukup menjadi pengalaman pahit. Kita bisa belajar bahwa eksklusifisme kelompok dapat terseret pada fanatisme dan rawan menyulut perpecahan. Pendidikan pluralis multikultural bisa menjadi jembatan untuk menyikapi perbedaan yang ada. Sejarah telah mencatat bahwa figur seorang Al-Biruni, tokoh Muslim multikulturalis dan sekaligus ilmuwan yang kemudian warisannya diteruskan oleh Gus Dur di Indonesia, adalah model yang menyejukkan bagi iklim keberagaman.

Dalam konteks keberagaman dan keindonesiaan, Gus Dur telah menunjukkan keberaniannya membuka tabir diskriminasi etnis yang berpuluh tahun membelenggu saudara kita etnis Tiong Hoa. Dengan lantang beliau juga menyuarakan ketegasan prinsipnya bahwa klaim kebenaran absolut dari sebuah ajaran adalah benih bagi tumbuhnya fundamentalisme radikal yang sewaktu-waktu dapat menghancurkan keutuhan NKRI. Dalam berbagai kesempatan dialog, Gus Dur begitu hangat merangkul, menyapa dan berbagi gagasan dengan beberapa tokoh agama di negeri ini.

Demikianlah, apa yang menjadi perkataan Al-Zubaidi di abad ke sepuluh, All lands in their diversity are one, and men are all neighbours and brothers semoga menjadi perwujudan bagi Indonesia yang telah begitu lama bersemboyan sebagai pemuja Bhinneka Tunggal Ika.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s